ABBA = Ayo Bersama Baca Alkitab

Desiring the Truth! Loving the Truth! Living for the Truth!
Soli Deo Gloria

Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2011

MENARI DI TENGAH BADAI (Habakuk 3:16-19)


Apakah damai itu? Seringkali kita mengasosiasikannya dengan keadaan yang baik, sukses dan lancar. Atau ketika kita memang harus mengalami kesulitan, maka damai ialah ketika kita menemukan jalan keluar dari kesulitan tersebut. Intinya, damai bagi kita merupakan sebuah keadaan yang ditentukan oleh kondisi. Bila demikian, maka Habakuk sepertinya bukan orang yang bisa merasakan “damai” tersebut.
Nas ini merupakan nas yang menceritakan pergumulan Habakuk mengenai bangsanya. Pergumulan ini sendiri dimulai pada pasal 1:1-4. Di sana ia melihat keadaan-keadaan yang sulit yang sedang terjadi pada bangsanya. Dikatakan bahwa ada penindasan (ay. 2), ada kejahatan (ay. 3) bahkan dikatakan tidak ada keadilan di tengah-tengah bangsanya, sebab hukum kehilangan kekuatan dan keadilan muncul terbalik (ay. 4). Tinggal dalam kondisi demikian tentu bukan hal yang menyenangkan bagi seseorang yang mencintai damai dan keadilan. Bagaimana perasaan kita bila kita tinggal di suatu daerah yang angka kejahatannya sangat tinggi? Suatu daerah yang setiap hari selalu ada pencurian, sering tejadi perampokan dan penjarahan, bahkan tak jarang pula ada pembunuhan? Tentu sulit bagi kita untuk merasa nyaman da tenang. Nah, saya memnayangkan kurang seperti itulah perasaan yang dialami Habakuk.
Sebagai seorang Yehuda yang baik, tentu yang Habakuk harapkan ialah Tuhan menggerakkan bangsanya untuk bertobat. Tetapi menarik sekali jawaban Tuhan membuat Habakuk menjadi terkejut. Ketika Habakuk meminta Allah bekerja, dalam pasal 1: 5-11, Allah malah menjawab bahwa Dia akan menghukum bangsa Yehuda dengan mengirimkan bangsa Kasdim. Masalahnya, bangsa ini merupakan bangsa yang lebih jahat, sehingga mereka pasti merasa bahwa bangsa itu tidak layak untuk menghukum mereka. Penghukuman dengan memakai bangsa Kasdim berarti tidak sedang membuat keadaan bangsa Israel lebih baik, namun lebih buruk. Sederhananya, ketika Habakuk meminta Tuhan mengubah keadaan yang buruk itu menjadi baik, ternyata Tuhan malah menjanjikan penghukuman yang lebih berat bagi bangsanya: Tuhan tidak membuat keadaan buruk itu jadi baik, tetapi malah lebih buruk!
Hal ini tentu bukan hal yang mudah. Ini sama seperti memohon kesembuhan kepada Tuhan tapi malah dijawab dengan kematian. Pergumulan berat ini ternyata dialami oleh Habakuk. Dan tentu saja bukan hal yang mudah untuk bisa menerima hal tersebut. Bagi bangsa Yehuda yang hidupnya bergantung pada pertanian, ayat 17 merupakan situasi yang sangat sulit. Pohon ara, buah-buahan dan minyak merupakan produk-produk pilihan mereka (band. Yoel 1:7; Hos 2:12; Mik 4:4; 6:15; Ul 6:11; 8:8). Lebih daripada itu, ladang yang tidak menghasilkan makanan dan ternak yang musnah menyangkut kebutuhan pokok yang tidak bisa tergantikan. Situasi ini bukan hanya masalah ekonomi. Ketidakadaan komoditas di atas sangat terkait dengan ibadah mereka di bait Allah yang pasti melibatkan minyak, gandum dan kurban bakaran. Lebih jauh, semua komoditas tersebut berhubungan dengan perjanjian antara Allah dan umat-Nya: komoditas tersebut adalah hasil perjanjian (Im 26:3-5, 10; Ul 28:2-14) dan digunakan dalam berbagai hari raya untuk memperingati perjanjian tersebut. Pendeknya, situasi ini secara nalar sulit dihadapi oleh setiap bangsa Yehuda. Situasi ini merupaka situasi yang amat sulit untuk dihadapi.
Tetapi dalam pergumulannya, Habakuk menemukan jawaban mengenai apa itu arti damai Tuhan. Dalam kondisi sulit itu ia bisa merasa bersukacita sebab damai Tuhan merupakan sebuah damai yang tidak dibatasi oleh kondisi. Damai Tuhan bukan didasarkan atas apa yang diberikan Allah tetapi atas Allah sendiri. Damai sejati terjadi bukan ketika kesulitan berubah menjadi kebaikan, tetapi saat Tuhan menjadi kekuatan kita dan menyertai kita mampu menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut (ay. 19); bukan semata saat kita menemukan jalan keluar tetapi saat kita menemukan Tuhan dalam kekacauan itu. Hal ini seharusnya juga mengingatkan kita bahwa damai yang sejati ialah sebuah sukacita yang tidak terbatas oleh kondisi melainkan oleh kehadiran Allah. Karena itu, dalam menghadapi kesuitan-kesulitan sadarlah bahwa kehadiran dan penyertaan Tuhan merupakan penghiburan terbesar dalam mengadapi masa-masa tersulit dalam hidup kita.
Ada sebuah pengalaman hidup John Wesley - seorang pelopor gerakan Metodis yang terkenal - yang sangat menentukan hidupnya, salah satunya adalah perjumpaan John Wesley dengan sekelompok kaum Moravian di sebuah kapal menuju kepulauan Amerika. Waktu itu ia diangkat sebagai pendeta untuk melayani kaum pendatang di Amerika. Kapal yang ia tumpangi dilanda badai di tengah Samudera Atlantik. Semua orang panik, kecuali kelompok Moravian yang tetap memuji Tuhan dengan sukacita. Ketika John Wesley bertanya mengapa mereka begitu tenang dan malah bersukacita, mereka ganti bertanya kepada John Wesley, “Apakah engkau mengenal Yesus Kristus?”, “Apakah Engkau tahu bahwa Ia adalah Anak Allah?”, “Apakah engkau yakin bahwa engkau diselamatkan?” Pengalaman ini turut menuntun John Wesley pada pertobatan yang sejati dengan puncaknya ketika ia mendengar pendahuluan tafsiran Roma yang ditulis Martin Luther. Kesulitan yang dihadapi dengan keyakinan akan penyertaan Tuhan akan membawa kita pada kekuatan dan sukacita yang sejati.
Yohan Cadawasa memberikan sebuah refleksi yang sangat baik bagi kita. Ia menulis demikian:

“Ketika kita sakit, apakah penyakit itu mendorong kita mencari kesembuhan atau penyembuh; ketika kita miskin, kita didorong mencari kekayaan atau Pemberi kekayaan? Umumya jawaban pertamalah yang kita pilih. Maka setelah mendapatkannya kita tidak lagi peduli pada pemberinya dan pergi meninggalkan-Nya. Karena kita tidak membutuhkan Tuhan dalam kelancaran kita, padahal sesungguhnya kita harus datang dan mendapatkan Sang penyembuh, sang Pemberi itu sendiri
Luka seharusnya mengingatkan kita bukan pada kebutuhan akan kesembuhan tetapi pada Penyembuh. Kemiskinan seharusnya menarik kita bukan pada kekayaan tetapi pada Allah Pncipta langit dan bumi. Kesedihan seharusnya tidak membawa kita kepada hiburan tetapi Pengibur. Kecelakaan seharusnya membuat kita bukan mencari keselamatan tetapi penyelamat.
Itu berati Allah sendiri sebagai tujuan. Karena sesungguhnya Dia tidak memberi damai, Dia adalah damai itu sendiri. Dia tidak memberi hikmat, Dia adalah hikmat itu sendiri. Dia tidak memberi kasih, Dia adalah kasih itu sendiri. Dia tidak memberi kekuatan, tetapi adalah kekuatan itu sendiri. Dia tidak memberi warisan, tetapi adalah warisan itu sendiri. Dia tidak memberi sukacita, tetapi adalah sukacita itu sendiri. Dia tidak memberi kelegaan juga bukan alat untuk mengubah situasi agar kita menjadi lega, tetapi Dia sendirilah kelegaan itu.”

Kenyataan ini seharusnya membuat kita makin mendekat kepada Tuhan, menjadikan Dia sebagai yang terutama selama-lamanya, sebab hanya di dalam Dialah ada damai yang sejati. Damai yang sejati bukan ditentukan dari keadaan kita tapi dari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dan ketika menyadari bahwa Ia selalu besera kita, maka seharusnya selalu ada damai dalam hidup kita. Keyakinan akan penyertaan Tuhan ialah kunci yang membuat Habakuk bisa bersukacita di tengah kesulitan yang ia alami, penyertaan inilah yang membuat kaum Moroavian tadi bisa bernyanyi di tengah badai, dan penyeraan ini juga lah yang akan memampukan kita tetap tegar di tengah terjangan hidup. Amin.

Rabu, 04 Mei 2011

Tanya Jawab Pemuda 2

1. Kenapa harus suku Lewi yang dijadikan Tuhan sebagai pelayan Tuhan? Kenapa bukan suku-suku yang lain. Apa karena suku Lewi tidak bisa berperang seperti suku-suku lain di bangsa Israel?
Jawab:
Bila menilik dari Ulangan 33:9-11, nampaknya suku Lewi menerima status khusus ini karena kesetiaan mereka terhadap Tuhan dan firman-Nya. Dikatakan bahwa: “Biarlah Tumim dan Urim-Mu (dalam artian jabatan imam/pelayan Tuhan) menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi (konteksnya jelas merujuk pada Lewi)” (ay. 8a), alasannya “Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu” (ay. 9b). Di sepanjang perjalanan bangsa Israel menuju Kanaan, kita akan menemukan bahwa hal ini memang benar. Satu contoh yang sangat jelas, misalnya, ketika bangsa Israel membuat patung Anak Lembu Emas (Keluaran 32), dicatat bahwa satu-satunya suku yang memihak kepada Tuhan ialah Lewi (ay. 26-28). Bahkan Musa memberikan penekanan bahwa saat itu “berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi” (ay. 26b).


2. Apakah sewaktu Israel ditindas di Mesir itu mereka sudah tinggal berkelompok menurut suku-sukunya?
Jawab:
Tidak ada indikasi bahwa orang Israel sudah tinggal berkelompok menurut sukunya pada saat mereka masih hdiup di Mesir. Catatan paling jelas bahwa mereka mulai hidup berkelompok menurut sukunya ada di dalam Bilangan 2, saat mereka sedang ada di padang gurun, dalam perjalanan menuju tanah perjanjian.


3.  Apa itu persembahan sulung? Apakah persembahan sulung itu wajib?
Jawab:
Persembahan sulung: persembahan seluruh hasil pertama (ternak, hasil tanah, dsb) dari penghasilan untuk Tuhan (Bil. 18: 8-20; Im. 2:2; 23:10; Ul. 26:1-10; Ams. 3:9; .bnd. Yeh. 44:30). Dalam PL persembahan ini bersifat wajib. Dalam Perjanjian Baru tidak disinggung sebab kemungkinan orang Yahudi waktu itu melakukan dengan setia. Lalu apakah persembahan ini wajib untuk kita hari ini? Dalam artian wajib sebenarnya tidak, sebab hari ini kita memang tidak lagi hidup dalam masa legalitas hukum, kita hidup dalam masa anugerah! Akan tetapi anugerah ini tentu tidak membuat kita lantas hidup secara sembarangan. Persembahan sulung memang tidak lagi diwajibkan seketat dalam Perjanjian Lama, namun bukan berarti hari ini kita melalaikannya. Kita memang tidak dipaksa untuk memberikannya, namun tidak bisa tidak, sebagai orang yang telah menerima kemurahan yang begitu besar dari Allah, kita pasti rindu untuk melakukannya. Dengan persembahan ini kita belajar mensyukuri berkat Tuhan dan menyandarkan hidup dan keperluan kita pada-Nya. Persembahan ini bukan sebuah kewajiban namun sebuah konsekuensi logis dari berkat Tuhan yang besar bagi kita.


4. Dalam Alkitab ada beberapa kali dicatat Allah 'berdiskusi' dengan beberapa tokoh (misalnya dengan Abraham soal Sodom-Gomora, dengan Amos soal Israel). Yang saya ingin tanyakan yang kasus 'diskusi' Allah dengan Amos tentang hukuman utk Israel. Dicatat beberapa kali Allah memberitahukan 'rencana-Nya' lewat penglihatan pd Amos, tapi setelah Amos bilang Yakub tidak bisa bertahan, Alkitab mencatat Allah menyesal dan tidak akan melakukan hal itu. Pertanyaannya:                 
1. Apakah dalam kasus ini berarti rencana jangka pendek Allah (untuk hal penghukuman, misalnya) bisa diubah melalui doa orang percaya?
2. Alkitab mencatat Allah membatalkan cara-cara  awal penghukuman pada Israel karena Amos bilang Yakub kecil dan tidak bisa bertahan, apakah berarti semua bencana alam atau peperangan yang makan banyak korban (yang Allah ijinkan) itu sebenarnya bisa dibilang 'skala kecil' yang bisa ditanggung bangsa2 yg mengalami?
Jawab:
Untuk menjawab pertanyaan pertama, ada dua hal yang perlu kita ingat di sini. Pertama, doa sebenarnya tidak merubah kehendak ataupun rencana Allah. Doa sebenarnya justru sebuah sarana dimana keinginan dan kehendak kita yang diubahkan agar sesuai dengan kehendak Allah. Doa merupakan cara kita menyandarkan diri pada kedaulatan Allah dan meyakini bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik. Allah mengubah kehendak-Nya bukan karena doa tapi karena kedaulatan-Nya. Kedua, kita harus memahami kisah Amos tersebut dalam kerangka kedauluatan dan rencana besar Allah. Allah adalah Allah yang Mahatahu, tentunya Ia lebih mengetahui dengan baik daripada Amos bahwa hukuman yang akan Ia berikan tidak akan bisa ditanggung oleh bangsa Israel. Lantas mengapa Ia terlihat akan memberikan hukuman tersebut? Penting diingat bahwa tujuan di balik penghukuman yang diberitakan para nabi, termasuk Amos, adalah pertobatan Israel. Allah memakai ancaman hukuman tersebut untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa dosa dan kesalahan mereka sudah terlampau banyak. Akan tetapi, Allah juga memakai permintaan Amos untuk menunjukkan bahwa Allah terus mengasihi mereka dan mengharapkan mereka bertobat dan berbalik kepada-Nya. Sehingga melalui momen dialogis antara Allah dan Amos, Allah ingin menunjukkan kebobrokan Israel sekaligus kasih Allah yang terus mengajak mereka untuk kembali pada-Nya.
Mengenai apakah tiap kesulitan yang terjadi adalah kesulitan dalam ‘skala kecil’? Paulus dalam 1Kor. 10:13 menjelaskan bahwa tiap pencobaan yang dialami seseorang ataupun suatu kelompok, seberat apapun pencobaan tersebut, ialah pencobaan yang bisa ditanggung oleh orang ataupun kelompok tersebut. Meskipun konteks ayat ini ditujukan bagi orang-orang yang merasa dirinya rohani, namun kebenaran yang disampaikan Paulus tetap jelas, bahwa “Alah setia dan Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melebihi kekuatanmu.” Jadi, bukan soal skalanya tetapi soal apakah kesulitan dan bencana itu bisa ditanggung. Seberapapun besarnya skala masalah, tapi ketika Tuhan ijinkan itu terjadi dan Tuhan masih ijinkan kita hidup, itu artinya Ia percaya bahwa kita bisa menanggung dan menyelesaikan kesulitan tersebut.


5. Kalau TUHAN itu Maha Tahu, mengapa TUHAN marah pada kita kalau kita berbuat dosa? Bukankah seharusnya TUHAN sudah tahu terlebih dahulu sebelum kita berbuat dosa?
Jawab:
Dosa membuat Tuhan marah karena dosa merupakan pengingkaran terhadap sifat-Nya yang kudus. Kita adalah anak-anak-Nya yang seharusnya hidup dalam kekudusan (1Pet. 1:16), bila kita berdosa itu berarti kita tidak hidup sesuai standar yang Ia berikan pada kita. Marahnya Allah sebenarnya tidak usah dipandang sebagai kemarahan dalam arti negatif. Kemarahan Allah merupakan kemarahan yang kudus dan penuh kasih. Kemarahan-Nya menunjukkan bahwa Ia mengasihi kita (Ibr. 12:5-8). Ia memang marah ketika kita berdosa, namun Ia juga selalu mengampuni kita. Penebusan Kristus telah menyucikan seluruh dosa kita, baik yang dahulu, sekarang ataupun yang akan datang. Sehingga meski Ia marah ketika berdosa, namun penebusan Kristus melalukan kita dari murka-Nya yang terbesar.


6. Saya tidak mengerti tentang kehendak bebas. Bukankah TUHAN sudah tahu segala yang akan terjadi, dan semua yg terjadi itu sudah menurut kehendaknya, maka seharusnya istilah "kehendak bebas" ataupun "kehendak bebas yg tdk benar-benar bebas" itu tidak ada, karena segala sesuatu sudah ditetapkan oleh TUHAN.
Jawab:
Manusia memang tidak benar-benar bebas dalam arti bebas secara mutlak. Tiap manusia memiliki ketergantungan pada sesuatu sebab atau peristiwa. Alkitab juga menyatakan bahwa kehendak bebas manusia merupakan kehendak yang terbatas. Namun Alkitab menyatakan bahwa manusia tetap memiliki kehendak bebas. Akan tetapi, di sisi lain, Alkitab juga mengajarakan bahwa dalam kebebasan itu Allah berdaulat mengatur segala sesuatu, termasuk kebebasan manusia. Hal ini nampak sebagai sebuah paradoks, walaupun sebenarnya bukan. Dua hal ini tidak harus diharmoniskan sebab keduanya memang tidak bertentangan, bahkan sebenarnya sejalan. Alkitab memang tidak merinci secara jelas bagaimana bentuk keterkaitan kedua hal ini. Apakah karena Allah sudah menetapkan segala sesuatu maka kita tidak bertanggungjawab kepada-Nya? Tentu tidak. Sebab kita tetap memiliki kehendak bebas. Bagaimanapun, satu hal yang perlu selalu kita ingat, patokan kita bukanlah penetapan Allah atas keadaan manusia melainkan melainkan firman Allah yang mengatur bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Untuk penjelasan lebih rinci, baca artikel Kedaulatan Allah dan Kebebasan Manusia


7. Dulu seingat saya laoshi pernah bilang kalau laoshi percaya bayi yang meninggal saat masih belum mengerti apa-apa (entah dalam kandungan atau udah dilahirkan meninggalnya) akan masuk surga. Terus apakah orang-orang dari suku pedalaman yang tidak mempunyai kesempatan untuk mengenal Tuhan ( belum diinjili) juga masuk surga?          
*) Jika tidak , apakah ini mrupakan bagian dari predestinasi?       
*) Jika iya, tolong dijelaskan tentang predestinasi kembali, sebab menurut saya bayi dan suku pedalaman yang tidak mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil itu seharusnya masuk neraka oleh karena predestinasi (kalau menurut bahasaku, mereka emang diciptakan untuk dibinasakan).
Jawab:
Keselamatan bayi berbeda dengan keselamatan orang-orang suku pedalaman. Orang-orang suku pedalaman memang tidak terpanggil untuk mengenal Tuhan. Ingat bahwa dalam Rm. 8:29-30, orang yang terpilih adalah orang yang terpanggil. Apakah tindakan ini adil? Bukankah mereka tidak punya kesempatan untuk mengenal Injil? Paulus dalam Rm. 1:18-20 menjelaskan bahwa masalahnya bukan apa mereka bisa mengenal kebenaran atau tidak tetapi kecenderungan manusia justru cenderung menindas kebenaran. Itulah mengapa Paulus mengatakan bahwa tidak seorang pun bisa berdalih (ay. 20).
Sedangkan keselamatan bayi sedikit berbeda. Beberapa sarjana Reformed menganggap bahwa bayi dari anak Tuhan pasti diselamatkan (lihat 1Kor. 7:14). Sedang bayi dari orang yang bukan anak Tuhan, mereka cenderung bersikap tidak tahu. Saya sendiri mengikuti pandangan teolog Reformed yang lain, bahwa semua bayi yang mati pasti masuk sorga. Mereka adalah orang-orang yang mendapat anugerah keselamatan dari Allah.  Mengapa demikian? Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir demikian. (1) Bayi tidak memiliki tanggung jawab moral. Mereka memang memiliki dosa asal namun mereka tidak memiliki dosa aktual. Mereka tidak bisa memilik untuk percaya Yesus atau tidak sebab untuk hidup pun mereka tidak punya kesempatan. (2) Dalam Mat. 19:14 (dan paralelnya), Yesus mengatakan bahwa “sebab orang-orang yang seperti itulah (seperti anak kecil) yang empunya Kerajaan Sorga.” Pernyataan ini cukup jelas untuk mengindikasikan bahwa anak-anak kecil, termasuk bayi, memiliki status yang spesial di mata Allah karena kepolosan dan ketulusan mereka.


8. Saya pernah mendengar ada bermacam teori yang menolak kebangkitan Yesus. Bagaimana kita menanggapinya?
Jawab:
Ada beberapa teori yang memang dimunculkan untuk menolak kebangkitan Yesus. Akan tetapi teori-teori tersebut tidak memiliki argumen yang baik bahkan memiliki banyak kelemahan. Teori pertama ialah teori yang dipopulerkan oleh Charle A. Guignebert. Ia mengatakan bahwa tubuh Yesus dikuburkan di pemakaman umum yang tidak diketahui murid-murid-Nya. Karena itu, cerita kebangkitan muncul karena ketidakmengertian mereka dimana tubuh Yesus.
Kelemahan:
-          Pandangan ini ini melupakan bahwa pada masa itu tidak semua kriminal dikuburkan dalam pemakaman umum.
-          Penulis Injil mempunyai saksi Yusuf Arimatea bahwa Yesus tidak dikuburkan dalam pemakaman umum (Mat. 27:57-60; Mrk.15: 43-46; Luk. 23:51-53; Yoh. 19:38).
-          Markus bahkan secara jelas mencatat bahwa Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan (Mrk 15:47).
-          Selain itu para pasukan Roma tentu mengetahui dimana kubur itu sebab mereka tetap berjaga-jaga di sana.

Teori kedua ialah teori yang dicetuskan oleh Kirsopp Lake. Ia mengatakan bahwa para wanita datang ke makam yang salah karena ada banyak makam yang mirip di Yerusalem. Mereka menemukan sebuah makam yang terbuka dan seorang muda yang menolak bahwa makam itu adalah makam Yesus. Wanita-wanita yang ketakutan itu secara salah menganggap bahwa orang muda tersebut ialah malaikat dan kemudian pergi.
Kelemahan:
-          Teori ini melupakan bahwa wanita-wanita tersebut tidak mencari makam yang terbuka tapi makam yang dimeteraikan. Mereka tentunya akan melewati makam terbuka tersebut bila mereka tidak yakin akan lokasi yang tepat dari makam yang benar.
-          Lagipula wanita-wanita tersebut telah mencatat lokasi makam itu 72 jam lebih awal.
-          Demikianpun seorang pria yang mereka temui tidak hanya berkata “Dia tidak di sini” (salah makam) tetapi “Dia sudah bangkit.”
-          Selain itu bila makam tersebut adalah makam yang salah, Yusuf Arimatea, para pasukan Romawi, dan orang-orang Yahudi yang mengetahui lokasi makam yang benar, dapat dengan mudah menentang berita kebangkitan dengan menunjukkan makam yang benar. Akan tetapi berita yang disiarkan bukanlah bahwa murid-murid datang ke makam yang salah, tapi bahwa mayat Yesus dicuri (Mat. 28:11-15).

Teori ketiga ialah teori yang berakar dari pemahaman sekte Gnostik bahwa kebangkitan Yesus bukanlah secara badani tapi secara rohani. Kisah kebangkitan Yesus tidak harus dimaknai harafiah tapi secara metaforis.
Kelemahan:
-          Kelemahan teori ini ialah mengabaikan pemahaman orang Yahudi bahwa kebangkitan bukanlah bersifat rohani tapi badani dan catatan Injil bahwa Yesus dapat disentuh dan dipegang (Luk. 24:30, 39,-43;  Yoh. 21:15).
-          Lagipula, bila kebangkitan hanya bersifat rohani, bukankah orang-orang Yahudi dapat menunjukkan makam tempat tubuh Yesus yang masih terbaring?

Teori keempat ialah teori yang menganggap bahwa murid-murid Yesus yang secara emosional diliputi dengan pengaharapan mesianis dari Yesus berhalusinasi (menghayal) tentang Yesus yang bangkit.
Kelemahan:
-          Keberatan terhadap teori ini ialah bahwa tidak mungkin ada lebih dari 500 orang yang berbeda, dengan situasi yang berbeda, dan dengan derajat komitmen dan derajat pengertian akan ajaran Yesus yang berbeda mengalami halusianasi secara bersama-sama.
-          Selain itu, para murid sama sekali tidak mengharapkan kebangkitan Yesus (bnd. Thomas). Bagi mereka kematian Yesus nampak sebagai sebuah akhir dari perjuangan-Nya.
-          Lagipula, bila mereka hanya berhalusianasi, bukankah otang-orang Yahudi dapat menyangkal dengan menunjukkan mayat Yesus?

Teori kelima merupakan Teori yang dipopulerkan oleh Hugh Scönfield. Scönfield berpendapat bahwa Yesus berencana untuk menggenapi nubuatan Perjanjian Lama tentang hamba yang menderita dan raja yang memerintah melalui kematian dan kebangkitan-Nya yang pura-pura. Yusuf Arimatea dan seorang pemuda yang misterius merupakan kaki tangan Yesus dalam rencana ini. Akan tetapi, skenario ini menjadi kacau ketika seorang tentara menombak lambung Yesus. Untuk menutupi kegagalan ini, pemuda misterius tersebut berperean menggantikan Yesus sebagai tuhan yang bangkit.
Kelemahan:
(1)    Scönfield mengabaikan peran penjaga-penjaga yang berjaga-jaga di makam Yesus.
(2)    Scönfield tidak memilki dasar yang kuat untuk mendukung argumennya tersebut.
(3)    Kebangkitan yang demikian tentunya tidak akan membawa perubahan pada diri murid-murid yang jelas mengenal wajah Yesus.
(4)    Sulit dimengerti mengapa Yesus harus menggenapi nubuatan tentang hamba yang menderita mengingat hal tersebut bertentangan dengan keyakinan mesianik pada waktu itu. Bila hanya bertujuan mendapat dukungan, harusnya Yesus cukup hanya menggenapi nubuatan tentang raja yang memerintah.
Dari semua ini terlihat bahwa penolakan terhadap kebangkitan Yesus merupakan penolakan yang tak beralasan, bahkan sejarah membuktikan bahwa peristiwa itu merupakan sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Rabu, 03 November 2010

Tanya Jawab Pemuda

1.       Kenapa orang di luar kristen orang tetap bisa mendapatkan kedamaian spiritualitas dan hati? Kenapa sukacita tidak hanya di dalam Kristus?
Jawab:
Menurut perspektif Alkitab, kedamaian yang sejati hanya bisa didapatkan di dalam Tuhan (Mzm. 62:2). Damai ini sifatnya tidak terkondisi, dalam artian tidak dipengaruhi oleh situasi kita, sebab damai ini berasal dari janji penyertaan dan keselamatan Allah (bandingkan Hab. 3:16-19). Kedamaian ini hanya akan pudar ketika kita menjauh dari Sumbernya melalui dosa. Ini berbeda dengan kesenangan yang bisa dialami karena apapun, namun segera sirna ketika pembuat kesenangan atau situasi yang menyenangkan itu tidak ada. Kedamaian sejati akan membuat kita mampu merasa damai bahkan dalam keadaan yang tidak menyenangkan sekalipun.
Lalu apakah orang-orang di luar Kristus bisa merasakan damai? Dalam taraf tertentu “ya,” dan ini adalah bagian dari anugerah umum Allah pada manusia. Namun, menurut Alkitab, damai tersebut bukanlah damai yang sejati. Damai tersebut biasanya didapatkan karena memenuhi ritual-ritual tertentu, entah bertarak atau melakukan sebuah kewajiban agamawi. Sehingga, damai tersebut muncul karena seseorang merasa telah melakukan sesuatu “kewajiban” untuk Tuhan.
Sedangkan damai dalam Kekristenan, merupakan sesuatu yang logis muncul ketika dia menerima Kristus. jadi, damai itu didapat bukan karena kewajiban agamawi tertentu melainkan karena Kristus yang hadir di dalam hati dan hidup seseorang. kewajiban-kewajiban agamawi yang dia buat, bukanlah supaya mendapatkan damai yang sejati, namun justru karena hidupnya dipenuhi oleh damai sejati, maka dia tidak bisa tidak melakukan sesuatu untuk Sang Pemberi Damai.

2.       Saya mau tanya nih. Saya pernah baca di PB tapi lupa ayatnya. Di situ ditulis kira-kira begini bunyinya, Tuhan Yesus berkata: “barangsiapa menghujat Anak Manusia masih dapat diampuni, tapi barangsiapa menghujat Roh Kudus tidak dapat diampuni, baik di dunia ini maupun di masa yg akan datang.” Kenapa dibedakan antara Anak Manusia dengan Roh Kudus? Bukankah Allah Tritunggal setara kedudukannya? Ayatnya ada di mana ya? Terima kasih atas penjelasannya.
Jawab:
Ada dua pertanyaan yang harus dijawab di sini. Pertama, soal ayat dan maksudnya. Ayat yang dimaksud ada dalam Mat. 12:31-32 dan Mrk. 3:28-29. Konteks ayat ini ialah ketika Yesus mengusir setan, ahli-ahli Taurat dan Orang Farisi menganggap bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Yesus lantas menyebut tindakan itu sebagai “menghujat Roh Kudus,” yakni menganggap perkerjaan yang dilakukan Roh Kudus sebagai karya iblis.
Lalu mengapa dosa tersebut tidak bisa diampuni? Penting diingat bahwa salah karya pertama Roh Kudus dalam keselamatan ialah menginsyafkan seseorang akan dosanya (Yoh. 16:8).  Tanpa Roh Kudus, seseorang tidak akan bisa bertobat dan menemukan keselamatan. Sehingga, bila seseorang menghujat Roh Kudus maka ia menjadi tidak akan bisa diampuni sebab ia menolak karya Allah yang memampukan dia bertobat. Dengan menghujat Roh Kudus, ia telah menolak satu-satunya karya Allah mempertobatkan dia sehingga dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertobat.
Mengenai Tritunggal, kita harus menyadari bahwa ketiga Oknum yang ada memang berbeda pribadi. Kita tidak sependapat dengan bidat Modalistik atau Oneness yang mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang berganti-ganti peran untuk setiap zamannya. Pada zaman Perjanjian Lama, Allah memakai “topeng” sebagai Bapa, pada zaman Perjanjian Baru, Ia berganti peran sebagai Yesus, dan akhirnya pada masa kini, Ia mengenakan jabatan sebagai Roh Kudus. Pemahaman demikian ialah pemahaman yang salah. Memang hanya ada satu Allah, namun Ia mewujudkan diri-Nya dalam tiga Pribadi yang setara secara hakikat: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Kita meyakini bahwa Bapa bukanlah Anak, Bapa bukanlah Roh Kudus. Anak bukanlah Bapa, Anak bukanlah Roh Kudus. Ketiganya berbeda namun setara dalam hakikat keallahan-Nya. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus juga adalah Allah.
Secara ontologis (hakikat keallahan) mereka memang sama-sama Allah, namun dalam Pribadinya mereka berbeda. Secara ekonomis (susunan keallahan) mereka juga berbeda. Anak jelas tunduk kepada Bapa, Roh Kudus datang untuk memuliakan Anak. Perbedaan secara ekonomis ini tidak sama dengan perbedaan hakiki seperti yang diyakini kaum Sub-Ordinarianisme. Mereka meyakini bahwa secara hakiki Anak lebih rendah dari Bapa (Anak menjadi Allah kelas dua), dan Roh Kudus lebih rendah dari Bapa dan Anak. Pemahaman demikian jelas sesat. Mereka berbeda dalam ekonominya, namun setara dalam ontologinya.

3.       Kalau memang Tuhan itu memang Mahaadil, mengapa bisa ada dosa turunan? Bukankah hal ini sangatlah tidak adil buat kita, karena tiap kita manusia pastilah berdosa karena adanya dosa turunan ini yang padahal kita tidak melakukannya?
Jawab:
Dosa turunan ada karena kita terikat kepada Adam sebagai nenek moyang kita, sekaligus kepala perjanjian kita dengan Allah. Sehingga, bila Adam berdosa maka kita sebagai keturunannya juga akan terkena dampaknya. Hal ini merupakan hal yang sangat logis, sebab tidak pernah ada dosa yang tidak berdampak. Misalnya, seseorang yang kedapatan mencuri, efek dari tindakannya tersebut tentu tidak hanya dirasakan oleh dia, namun juga orang-orang yang di sekelilingnya. Misalnya, keluarganya akan menjadi malu, orang-orang di dekatnya mungkin juga dicurigai memiliki kecenderungan mencuri seperti orang tersebut, dsb. Lagipula, bila dosa turunan dianggap tidak adil, apakah juga adil bila kita yang tidak mengenal Yesus mendapatkan keselamatan oleh karena Dia?

4.       Gematric number itu apa sih? Mengapa angka "26" disebut sebagai Allahnya orang Israel? Mengapa angka "777" bisa identik dengan Tuhan? Apa ada hubungannya dengan Gematric number ini?
Jawab:
Gematric number atau Gematria ialah sistem penomoran orang terhadap huruf-huruf untuk memberi makna atau nilai terhadap sesuatu. Seringkali gematria ini juga menjadi suatu kode atau sandi rahasia. Contohnya, seseorang yang bernama “Dedi” nilainya dalam abjad kita ialah 22 (D=huruf ke-4, jadi nilainya 4, E=5, D=4, I=9; 4+5+4+9=22). Angka 26 diidentikan dengan Tuhan Bangsa Israel sebab jumlah nama Yahwe ialah 26 (YHWH; Y=dalam abjad Ibrani huruf ke-10, jadi nilainya 10, H=5, W=6, H=5; 10+5+6+5=26). Sedangkan “777” diidentikkan dengan Tuhan sebab 7 dalam numerologi (ilmu angka) orang Yahudi artinya sempurna, diulang 3 kali untuk menunjukkan kepastian. Sehingga “777” artinya kesempurnaan yang pasti. Bagi orang Yahudi, kesempurnaan yang pasti ini tentu hanya ada dalam Tuhan.

5.       Ada tertulis kalau hanya ada 144ribu orang yang dimeteraikan oleh Tuhan. Apakah hal ini mengacu bahwa hanya 144ribu orang yg akan masuk surga? Kalau begitu bukankah kemungkinan besar "jatah 144ribu" itu sudah terisi sejak lama? Kalau begitu bagaimana dengan kita?
Jawab:
Saksi Yehova memaknai angka 144ribu ini secara literal, sehingga mereka berkeyakinan bahwa yang masuk sorga hanyalah 144ribu orang saja, sedangkan sisanya akan masuk dalam “langit dan bumi baru,” yaitu bumi yang akan diperbaharui menjadi baik seperti keadaan semula di Eden. Karena, keyakinan mereka, saat ini sorga sudah penuh, maka nantinya semua orang benar pada zaman ini akan masuk dalam langit dan bumi baru.
Pemahaman demikian tentu buka pemahaman yang benar. Ingat bahwa jenis sastra Kitab Wahyu ialah apokaliptik, suatu jenis sastra yang penuh dengan simbol, sehingga angka-angka yang ada pun tentu tidak bisa dimaknai secara literal, termasuk angka 144ribu ini. Pemahaman secara literal tentu akan membawa banyak kesulitan, salah satu konsekuensinya, tidak semua suku Israel akan masuk sorga. Perhatikan baik-baik bahwa tidak ada suku Dan dalam Wahyu 7:5-8  tersebut.
Dalam numerologi Yahudi, angka ini terdiri dari 12 x 12 x 1000. Angka 12 kemungkinan merujuk pada jumlah suku Israel dan murid Yesus, sedangkan 1000 merujuk pada angka yang banyak. Sehingga bagi saya, angka 144ribu berarti orang-orang pillihan yang banyak yang terdiri dari bangsa Israel maupun murid-murid Tuhan yang lain.  Walau masih bersifat tafsiran, namun hal ini lebih masuk akal dan bertanggung jawab tinimbang memaknai angka ini secara literal.

6.       Ini ada pertanyaan dari temenku, dan aku bingung bagaimana cara menjawabnya? "Bisakah Tuhan membuat batu yang amat sangat besar sehingga Tuhan itu sendiri tdk mampu mengangkatnya?"
Jawab:
Jawabannya sederhana, tidak bisa. Orang mungkin akan berpikir, kalau begitu Tuhan tidak Mahakuasa? Nah, ketika berbicara tentang Tuhan kita tentu tidak bisa membicarakan-Nya dari satu sisi saja. Kita harus membicarakannya secara komprehensif (menyeluruh) sebab bila tidak akan terjadi banyak kesulitan. Misalnya, ketika kita berbicara tentang NaCl (Natrium Chlorida) atau yang biasa dikenal sebagai, garam, kita tidak bisa membicarakannya dari satu unsur saja. Natrium adalah sebuah unsur yang sangat reaktif dan mudah meledak bila terkena air, namun tentu tidak akan masuk akal bila kemudia kita melarang seseorang memakan garam karena takut akan muncul ledakan dalam mulutnya. Ketika berbicara tentang garam, tentu kita tidak bisa berfokus pada satu unsur saja, sebab garam terdiri atas dua unsur yang saling mempengaruhi.
Berbicara tentang Tuhan, kita pun juga tidak bisa hanya menekankan pada kemahakuasaan-Nya, sebab ada sifat-sifat lain yang juga melekat pada-Nya, misalnya kesempurnaan-Nya. Kesempurnaan ini membuat Dia tidak bisa menciptakan sesuatu yang lebih sempurna dari diri-Nya, sebab bila ada sesuatu yang lebih sempurna dari Dia berarti Dia belum sempurna dan sesuatu yang lebih sempurna itulah yang lebih layak disebut Allah. Bagi kita hari ini, mungkin arti sempurna banyak mengalami kemerosotan. Sempurna bagi kita belum tentu akhir. Suatu produk yang diiklankan bisa saja diklaim sempurna, namun nyatanya masih mengalami perbaikan-perbaikan dan revisi. Hal yang demikian sebenarnya tidak bisa disebut sempurna.
Kesempurnaan berarti sesuatu yang sudah puncak dan tidak ada yang lebih puncak lagi darinya. Kesempurnaan ini jugalah membuat Allah menjadi “Oknum yang paling …,” dan tidak ada yang lebih paling daripada Dia, siapapun atau dalam bentuk apapun.

7.       Neraka itu sebenarnya sudah ada atau baru akan ada pada saat hari penghakiman? Bukankah dalam cerita Lazarus dan orang kaya ada disebutkan tentang neraka?
Jawab:
Bila menilik catatan Alkitab jelas bahwa neraka sudah ada. Kisah Lazarus dan Orang Kaya menjadi salah satu nas pendukungnya. Meski nas ini bersifat perumpamaan, namun tentu Tuhan tidak akan memakai sesuatu yang salah untuk dijadikan kisah perumpamaan-Nya.

8.       Penyembahan yang benar itu bagaimana sih? Apa kita harus melakukannya?
Jawab:
Penyembahan sebenarnya tidak terkait dengan cara, selama cara ini tidak ngawur. Kelompok Pentakosta misalnya memahami penyembahan dalam artian seperti campuran doa dan bermazmur. Ada lagi yang memahami penyembahan seperti orang yang menenangkan diri dan merenungkan kata-kata firman. Alkitab tidak memberi data yang jelas tentang cara menyembah, sehingga cara menyembah bukanlah hal yang perlu dirisaukan selama cara ini baik. Namun bila caranya sudah mulai aneh (mis. Menyiksa diri, berhubungan seks, dsb) maka hal tersebut jelas sesat.
Yang terpenting dalam penyembahan ialah fokusnya. Penyembah yang benar ialah mereka yang menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran (Yoh. 4:23). Roh di sini merujuk pada penyembahan kepada Allah yang tidak terbatas oleh tempat, sedangkan kebenaran terkait erat dengan Yesus sebagai fokus penyembahannya. Ketika kita bermazmur apakah kita bermazmur untuk Yesus? Ketika kita menangis dalam penyembahan kita apakah kita menangis karena kasih Yesus atau sekedar untuk mengasihani diri sendiri? Penyembah yang benar hanya menjadikan Yesus sebagai pusat penyembahannya bukan dirinya.

9.       Dalam Alkitab kita dilarang menyembah dua tuan. Apakah juga berlaku dalam pekerjaan sebagai guru?
Jawab:
Konteks ayat ini ialah ketika kita mengabdi pada dua tuan yang jelas-jelas sangat bertentangan, yakni Allah dan Mammon. Dalam konteks kerja, kita sebenarnya tidak dilarang untuk bekerja pada dua tempat yang berbeda, selama kita bisa mengatur dengan baik. Namun, bila kedua majikan kita saling bertentangan atau saling bersaing, tentu kita tidak diharapkan bekerja pada keduanya sebab sama seperti kata Alkitab, “jika demikian kita akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau kita akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.” (Luk. 16:13).

10.   Apa beda ujian dan pencobaan dalam Yak. 1:3, 13?
Jawab:
Ujian ialah sebuah kesulitan yang terjadi yang tujuannya menjadikan kita tekun dan tahan uji (Yak. 1:3, 12), jadi sifatnya lebih membangun kita. Sedangkan pencobaan, merupakan sesuatu yang muncul untuk menjatuhkan kita. Dalam kenyataannya, seringkali sulit bagi kita untuk membedakan apakah yang kita alami ujian atau cobaan. Terlebih, Alkitab mencatat bahwa banyak kali sebuah peristiwa memang memiliki makna ganda, menjadi ujian sekaligus pencobaan. Kisah Ayub merupakan sebuah contoh yang bagus. Apa yang Ayub alami, di satu sisi, ialah ujian dari Tuhan, namun di sisi lain, juga merupakan usaha iblis untuk menjatuhkannya.
Yang terpenting bukan mengetahui apakah yang kita alami ujian atau cobaan melainkan bagaimana kita meresponi kesulitan tersebut. Yakobus memberi tahu kita kiat menghadapi kesulitan tersebut, yakni dengan menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan, tekun, memohon hikmat dari Allah untuk menghadapinya, dan menyadari bahwa Allah tidak mungkin mencobai kita (Yak. 1:2-8, 12).

11.   Apakah ada macam-macam dosa? 1 Yoh. 5:16-17, dosa mendatangkan maut dan tidak? Dosa yang tidak mendatangkan maut itu gimana ya??
Jawab:
Yohanes memang membagi jenis dosa menjadi dua, yakni yang mendatangkan maut dan tidak. Mengenai jenis dosa yang tidak mendatangkan maut, kita tidak tahu pasti apa saja yang digolongkan sebagai dosa yang tidak mendatangkan maut. Mengenai dosa yang mendatangkan maut, berdasar dari konteks surat 1 Yohanes, kemungkinan besar ialah mereka yang meninggalkan imannya pada Anak Allah, (tidak berada di dalam Dia), atau tidak memiliki kasih kepada saudaranya.

12.   Apa maksudnya Kej. 3:22. Apa secara tidak langsung membenarkan bahwa sebelum manusia makan buah pengetahuan, manusia gak tau baik dan jahat, sehingga yang dikatakan iblis benar? Bukankah manusia diciptakan menurut gambar Allah, berarti harusnya udah tahu donk tentang yang baik dan jahat? Lalu apa maksudnya buah kehidupan?
Jawab:
Ya, memang manusia sebelum memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat tidak mengenal apa itu dosa, apa itu salah. Pengetahuan ini tidak inheren (ada dengan sendirinya) dalam citra manusia sebagai gambar Allah. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah berarti manusia menjadi wakil kekuasaan Allah, manusia memang merefleksikan sifat Allah namun dalam lingkup yang sangat terbatas. Sifat-sifat yang direfleksikan, khususnya, ialah otoritas Allah dan kesosialan Allah. Manusia memiliki hak ut mengelola bumi (aspek otoritas) dan juga memiliki kerinduan untuk berelasi (memiliki hubungan) dengan sesamanya.

13.   Apa orang Kristen boleh mengikuti adat dan budaya. Bukankah dalam setiap budaya ada doa-doa yang gak berkenan, tapi sebagai warga yang baik kita kan harus melestarikan?
Jawab:
Dalam batasan tertentu, kita harus menjadi orang yang mempertahankan budaya dan adat kita, yakni selama adat atau budaya tersebut tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Bila budaya tersebut jelas bertentangan, maka kita harus tegas menolaknya. Bila budaya tersebut masih memiliki nilkai-nilai positif, maka budaya tersebut bisa kita kontekstualisasikan (sesuaikan). Bila budaya tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan firman, baru kita bisa menerimanya.
Untuk memperjelas, contohnya, dalam budaya Tionghoa, ada budaya berdoa untuk arwah leluhur. Nah, budaya ini jelas tidak bisa kita terima jarena jelas bertentangan dengan firman Tuhan. Dalam budaya Tionghoa, ada juga budaya menghormati orang tua yang kadangkala sampai bersujud pada mereka. Nah, budaya ini bisa kita sesuaikan. Menghormati orang tua adalah hal yang baik, namun sikap bersujud pada mereka ialah hal yang kurang baik, karena berkonotasi menyembah mereka. Kita bisa mengganti bentuk penghormatan ini dengan pai-pai atau membungkukkan badan. Sikap ini lebih netral dan tidak berkonotasi penyembahan.
Namun, dalam budaya Tionghoa ada juga budaya merayakan Imlek. Budaya ini tidak bertentangan dengan firman Tuhan sebab perayaan Imlek pada awalnya merupakan sebuah acara perayaan tahun baru. Imlek juga membantu para petani untuk menghitung iklim sehingga mereka bisa menentukan kapan waktu tanam dan waktu panen yang baik dengan berdasarkan peredaran bulan. Mitos-mitos Imlek yang biasa kita dengar hari ini sebenarnya ialah kisah-kisah yang ditambahkan kemudian untuk menjadi “bumbu penyedap.” Karena tidak ada hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, maka kita masih bisa untuk mempertahankan atau mengikuti budaya tersebut.