ABBA = Ayo Bersama Baca Alkitab

Desiring the Truth! Loving the Truth! Living for the Truth!
Soli Deo Gloria

Tampilkan postingan dengan label Artikel Teologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Teologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2011

Karya Roh Kudus dalam Gereja: Sebuah Refleksi dari Yohanes 16:4b-15


Beberapa waktu lalu, kita orang Kristen baru saja merayakan salah satu hari besar kita, yakni hari Pentakosta. Meskipun gempitanya tidak semeriah Paskah apalagi Natal, tetapi bagi beberapa kalangan Kristen, terutama kalangan dimana saya lahir dan bertumbuh, hari Pentakosta merupakan hari raya yang sangat penting karena biasanya dalam masa-masa ini, meniru yang terjadi dalam Kisah Rasul, adalah waktu dimana mereka berpeluang besar menerima kepenuhan “Roh Kudus.” Ketika saya masih kecil, saya diajarkan bahwa dalam masa sepuluh hari sejak peringatan kenaikan Yesus sampai dengan hari Pentakosta, seorang Kristen yang saleh dan sungguh-sungguh akan memiliki kesempatan besar untuk menerima kepenuhan Roh Kudus, yang tanda utamanya ialah berbahasa lidah. Bukan hanya itu, masa itu juga merupakan masa potensial untuk merasakan anugerah, “jamahan,” dan mujizat Tuhan. Maka tidak heran bahwa pada masa sepuluh hari itu, dalam gereja kalangan tersebut, akan diadakan banyak KKR dan ibadah doa yang fokusnya mengejar hal-hal tersebut.
Benak saya kemudian mencoba beralih ke masa lalu, mengingat mengapa dulu saya diajarkan untuk mengejar hal-hal tersebut. Akhirnya, saya tersadar bahwa hal-hal tersebut merupakan standar utama bagi kalangan itu untuk menilai hidup kerohanian seseorang atau bahkan kehidupan gereja. Semakin banyak jemaat berbahasa lidah atau merasakan jamahan mujizat, wow, maka semakin sehatlah gereja itu. Hal ini nampaknya sudah menjadi sebuah konsensus di kalangan tersebut, sehingga tidak terelakkan lagi, bahwa gereja-gereja non aliran mereka, yang jemaatnya tidak berbahasa lidah atau dianggap “jarang” merasakan mujizat Tuhan (tentunya termasuk gereja yang saya layani saat ini, yang afiliasinya merupakan gereja Reformed-Tionghoa), maka gereja itu bukan gereja yang sehat. Gereja itu bukan gereja yang dijamah Roh Kudus, atau lebih buruk lagi, gereja itu bukan gereja yang punya Roh Kudus. Saya ingat bahwa stigma ini pun merupakan konsensus dalam kalangan tersebut, yang sewaktu kecil juga turut memenuhi konsep saya.
Tepat lima hari sebelum peringatan hari Pentakosta lalu, seorang pemuda saya menceritakan pengalamannya ketika bertemu dan berdiskusi dengan beberapa orang pemuda dari sebuah gereja dari kalangan tersebut (gereja yang terkenal suka memakai minyak, yang pendetanya sering pergi pulang ke sorga). Intinya, dia menceritakan bahwa orang-orang tersebut mengeluarkan sebuah statemen yang sinis bahwa gereja kami bukanlah gereja yang punya Roh Kudus. Bahkan gereja yang tidak percaya Allah Tritunggal, sebab tidak percaya Roh Kudus. Jadi, karena gereja kami tidak menerima berbahasa lidah dalam ibadah dan tidak mengutamakan mujizat, maka munculllah stempel atas gereja kami (dan tentunya juga gereja-gereja yang seazas dengan kami) bahwa kami adalah gereja yang salah. Pertanyaannya apakah memang benar hal-hal itu yang menjadi tanda gereja yang benar atau gereja yang memiliki Roh Kudus?

Menarik disimak, dalam nas tadi Tuhan Yesus memberitahu kita mengenai karya-karya yang dilakukan Roh Kudus di dalam dunia. Ada dua jenis karya yang dilakukan Roh Kudus yang dipaparkan Tuhan di sini, dimana salah satunya berguna untuk menguji apakah kita atau gereja kita merupakan gereja yang berjalan menurut pimpinan Roh Kudus. Dalam ayat 8-11, karya pertama yang dilakukan Roh Kudus adalah karya yang terkait dengan dunia secara umum. Dikatakan di sana bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Kata “menginsafkan” di sini sebenarnya berarti meyakinkan tentang kesalahan mereka, dan ini terkait dengan 3 hal, yakni dosa, kebenaran dan penghakiman. Lalu apa maksudnya?
Menginsafkan akan dosa merujuk pada penolakan mereka terhadap Yesus: Roh Kudus lah yang akan menyatakan bahwa penolakan dunia terhadap Yesus sebagai utusan Allah ialah penolakan terhadap Allah yang mengutus-Nya, dan itu adalah dosa. Akan kebenaran sebab standar mereka mengenai kebenaran merupakan hal yang salah: mereka menganggap bahwa penolakan mereka terhadap Yesus adalah hal yang benar, padahal sebenarnya hal itu merupakan kesalahan. Dan mengenai penghakiman, sebab dosa dan standar yang salah itu akan membawa penghakiman terhadap mereka. Pernyataan Roh Kudus ini sendiri memang tidak selalu membawa pertobatan sebab dalam beberapa bagian lain karya Roh Kudus tidak selalu menyiratkan adanya pertobatan, malah pengerasan hati dan penghukuan (mis. Kis. 2:22-41; 7:51-57; 9:1-6; 1Kor. 14:24; 2Kor. 2:15, 16; Tt. 1:13). Makna yang diungkapkan nas ini ialah bahwa dalam karya pertama-Nya, Roh Kudus meyakinkan seseorang mengenai keberdosaannya dan konsekuensi yang harus mereka terima atas keberdosaan tersebut. Ide yang dikemukakan ialah pemisahan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Karya Roh Kudus di satu sisi merupakan cara Allah memanggil orang-orang kepada pertobatan bagi mereka yang menerima-Nya, namun di sisi lain juga merupakan pemberitaan mengenai hukuman Allah bagi mereka yang menolak-Nya.

Setelah membawa pemisahan bagi dunia, fokus karya kedua yang dilakukan Roh Kudus sebagaimana dipaparkan Tuhan Yesus, menyempit pada orang-orang yang menerima-Nya, pada komunitas murid-murid Tuhan atau yang bisa kita bahasakan hari ini sebagai gereja. Ada dua hal yang dilakukan Roh Kudus dalam diri orang-orang percaya. Hal pertama yang dilakukan-Nya ialah  “menuntun gereja kepada kebenaran” (ayat 13).  Apakah kebenaran yang dimaksud di sini? Di dalam Injil Yohanes, kata “kebenaran” dalam mayoritas terkait dengan Tuhan Yesus (Mis. Yoh. 1:14, 17; 5:33; 8:32, 40, dsb). Bahkan dalam Yohanes 14:6, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia sendirilah kebenaran. Ini berarti menuntun kepada kebenaran ialah karya Roh Kudus yang akan menuntun murid-murid Tuhan semakin dekat kepada Kristus dan karya-Nya. Konkritnya, Roh Kudus membantu para murid memahami dan menuliskan karya kematian, kebangkitan dan penyelamatan-Nya dengan baik (inspirasi), dan Roh Kudus juga yang menuntun kita untuk mengerti apa yang telah dituliskan supaya kita bisa memahaminya dengan benar (iluminasi). Di situlah Roh Kudus menuntun kita semua kepada kebenaran, kepada Yesus dan karya-Nya.
Ini berarti ukuran gereja maupun hidup kerohanian yang benar ialah dari seberapa banyak gereja atau hidup kita mencintai kebenaran Kristus. Sehebat apapun gereja namun ketika gereja tidak lagi mencintai kebenaran Kristus maka gereja itu bukan gereja yang sehat. Ketika gereja terus memberitakan tentang hal-hal yang menyenangkan dan nyaman namun tidak memberitakan tentang Kristus, gereja itu bukan gereja yang sehat. Ketika gereja mengejar hal yang lain dan bukannya firman Allah, maka gereja perlu berhati-hati melihat arahnya. Ketika gereja membuat jemaat mengejar hal yang lain selain Yesus, maka berdasarkan deskripsi Yesus, gereja itu bukan gereja yang dituntun oleh Roh Kudus.
Apakah yang menjadi prioritas dalam gereja Anda: Minyak urapan? Berkat? Nubuatan? Mujizat? Atau Firman Allah? Gereja ataupun seseorang yang dituntun oleh Roh Kudus seharusnya memiliki orientasi kepada kebenaran Kristus bukan karunia atau pemberian-Nya! Tugas gereja yang sehat ialah selalu memberitakan kebenaran Allah bukan hal-hal yang menyenangkan orang! Jadi, kesehatan gereja bukan diukur dari seberapa banyak jumlah jemaat atau jumlah orang yang berbahasa roh ataupun besarnya gedung tetapi dari seberapa kecintaan gereja terhadap kebenaran Kristus.

Tuhan Yesus lalu menjelaskan bahwa karya Roh Kudus kedua ialah "memuliakan Yesus” (ayat 14-15), dan karena itu juga, orang yang dipimpin oleh Roh Kudus seharusnya juga memuliakan Yesus. Sekitar abad kedua, ada seorang bapa gereja yang kemudian dicap sebagai bidat yang bernama Montanius. Dia adalah anak seorang imam yang merasa tidak puas dengan Kekristenan karena melulu berbicara soal Yesus tapi tidak pernah menyinggung soal Roh Kudus. Memang harus diakui bahwa selama empat abad pertama, gereja sedang bergumul dengan formula Trinitas dan keilahian Yesus, sehingga akibatnya, pada masa itu, gereja tidak terlalu banyak berbicara tentang Roh Kudus. Akibat ketimpangan ini, dia memberontak dan menyebut diri sebagai nabi Roh Kudus. Masalahnya, dia kemudian beralih dari satu ekstrim ke ekstrim lain, dari yang dia anggap mengabaikan “Roh Kudus” menjadi “mengabaikan Yesus.”
Bahkan caranya mendapat wahyu sangat bertentangan dengan firman Tuhan. Dikatakan bahwa ketika diurapi Roh Kudus, dia akan bernubuat layaknya orang kerasukan, tidak sadar. Prinsip ini jelas bertentangan dengan firman Tuhan. Paulus dalam Efesus 5:18 mengontraskan penuh Roh Kudus dengan mabuk oleh anggur. Ada dua hal yang dipertentangkan olehnya di sini. Penuh Roh Kudus jelas bukan seperti orang mabuk. Bila orang mabuk kehilangan kesadarannya, maka orang yang dijamah Roh Kudus tidak kehilangan kesadarannya. Ini juga bisa digunakan sebagai cara awal untuk menilai seseorang yang sedang “dijamah” Roh Kudus. Bila “jamahan” tersebut membuat seseorang ada dalam keadaan ekstase atau tidak sadar, maka itu jelas bukan jamahan Roh Kudus tapi kerasukan iblis. Beberapa waktu lalu saya melihat rekaman seorang pendeta terkenal di Amerika yang sedang mengalami “mabuk dalam Roh.” Nah, bila kita mau jujur terhadap firman, dengan yakin kita harus berani menyatakan peristiwa itu bukan karya Roh Kudus tapi karya roh lain. Satu prinsip penting yang harus diingat, Roh Kudus bekerja tidak pernah mengambil kesadaran seseorang. Hal kedua yang dipertentangkan oleh Paulus ialah hasilnya. Bila mabuk oleh anggur hanya menghasilkan perbuatan yang negatif (yakni menimbulkan hawa nafsu), tetapi orang yang dipenuhi harusnya menghasilkan perbuatan-perbuatan positif.
Berkaca dari kisah Montanius tadi, hari ini pun tren yang sama bisa kita temui dalam gereja-gereja tertentu: banyak berbicara tentang Roh Kudus dan karunia-Nya tapi jarang menyinggung tentang Yesus dan karya penyelamatan-Nya. Seorang pendeta bahkan secara ekstrim meletakkan sebuah kursi kosong di belakang mimbar yang tidak boleh diduduki oleh siapapun, sebab kursi itu diperuntukkannya khusus bagi Roh Kudus. Wow, saya lalu berkelakar dimana kursi untuk Bapa dan Yesus?!!
Masalahnya, Karya Roh Kudus yang sejati seharusnya tidak demikian, sebab tujuan dari karya Roh Kudus ialah memuliakan Tuhan Yesus. Roh Kudus tidak pernah bekerja terpisah dari Yesus, sebab fokus utama-Nya ialah membawa kemuliaan bagi Yesus. Ini juga harusnya menjadi perenungan bagi kita, apakah di dalam gereja kita Yesus dimuliakan? Gereja yang memiliki Roh Kudus maka gereja itu akan selalu memuliakan Yesus. Ketika yang diagungkan bukan Yesus, tapi hal-hal lain (entah program, orang kaya, uang, bahkan doktrin) maka gereja perlu memeriksa diri kembali. Saya agak terkejut bahwa beberapa waktu lalu ada sebuah gereja yang membanggakan dirinya di koran karena standar manajemennya diakui oleh ISO. Saya jadi berpikir mengapa gereja tersebut tidak dikenal karena Kristus tapi karena manajemennya? Saya juga sering bergurau dengan beberapa orang yang terlalu mendewakan pendetanya sehingga terasa kudus seperti Tuhan (seolah menghina Tuhan masih lebih bisa diampuni tinimbang menghina pendetanya) atau pun tentang hamba-hamba Tuhan yang takut menegur donatur gereja yang sedang hidup dalam dosa. Bila salah satu hal ini (saya berdoa tidak ada gereja yang mengalami semua hal ini) terjadi pada gereja kita, sebenarnya itu menunjukkan betapa tidak sehatnya gereja kita.  Gereja yang sejati harus memuliakan Yesus dan juga mengajak jemaat memuliakan Yesus. Jadi, betapapun jemaat gereja kita rajin “berbahasa lidah” tapi ketika Yesus tidak dimuliakan, maka di hadapan Tuhan gereja itu menjadi gereja yang sakit.

Kedua karya Roh Kudus dalam gereja ini menunjukkan bagaimana kita menilai kesehatan suatu gereja, termasuk gereja kita sendiri. Apakah gereja kita berfokus pada kebenaran Yesus dan memuliakan Yesus? Apakah gereja kita menjadi gereja yang semakin berdasar dan bertindak sesuai firman Tuhan? Apakah yang disampaikan di mimbar dan terus direnungkan jemaat ialah firman? Atau hal-hal yang lain? Apakah gereja terus meninggikan Yesus dan rindu memuliakan Yesus dalam tiap segi kehidupan gereja?
Kedua hal ini juga mengingatkan kita bahwa gereja kita sangat membutuhkan Roh Kudus. Roh Kudus lah yang memampukan kita menuju kebenaran dan memuliakan Yesus. Kita hari ini tidak sedang hidup di tengah zaman yang mencintai kebenaran melainkan zaman yang mementingkan kesenangan dan kenyamanan. Masalahnya, kenyamanan dan kesenangan itu kini banyak dipakai oleh ajaran-ajaran sesat untuk menarik banyak orang masuk ke dalamnya. Saya rasa ini memang hal yang wajar. Kita tidak akan mau minum sebuah minuman bila ada label racun di bungkus minumannya. Tapi bila kita melihat susu, dan kita tidak tahu ada racun di dalamnya, tentu kita bersedia meminumnya. Sama seperti itu, kita akan langsung menolak bila mendengar nama-nama aliran yang sesat, namun bila kesesatan itu memakai jubah Kristiani yang baik dan menarik, bisa jadi kita malah bersahabat dengan kesesatan itu. Mungkin kita sedang hidup dekat dengan serigala yang memakai jubah domba!
Karena itu, di tengah zaman yang seperti ini, kita perlu bersandar pada Roh Kebenaran supaya kita peka terhadap racun-racun itu. Kita tidak akan pernah tahu mana uang yang asli, mana uang yang palsu, bila kita sibuk mengenali uang palsu. Tetapi bila kita belajar baik mengenali uang asli, maka ketika ada uang palsu, kita pasti langsung bisa mengenalinya. Demikianpun, mengetahui ajaran sesat bukan dengan jalan mengenali semua ajaran sesat (karena bisa jadi malah akan membuat kita skeptis terhadap semua hal, termasuk ajaran yang asli), tetapi dengan mengenali sungguh-sungguh ajaran yang benar. Tetapi bagaimana kita bisa mengenali ajaran yang benar? Satu-satunya cara, dengan berjalan bersama dengan firman Allah dan Roh Kebenaran, sebab hanya melalui keduanya kita bisa mengenali kebenaran, dan kita akan dibuat lebih peka ketika muncul sesuatu yang tidak benar di sekitar kita.
Roh Kudus bukanlah milik kalangan Kristen tertentu saja. Roh Kudus ialah Allah Orang Kristen, karena itu kita semua sebagai orang Kristen harus berjalan sesuai tuntunannya, sebab tanpa Roh Kudus kita tidak akan pernah mampu hidup dengan benar dan memuliakan Yesus. Amin.





Catatan:
Tulisan ini merupakan hasil modifikasi dari kotbah yang saya sampaikan dalam Peringatan Hari Pentakosta di Kebaktian Umum 3 GKT Hosana.

Jumat, 08 April 2011

Teologi Reformed ialah Teologi Covenant

Richard Pratt Jr*


Teologi Reformed sering diasosiasikan dengan “teologi covenant”[1] (covenant theology). Jika Anda mendengarkan dengan seksama, Anda akan sering mendengar pendeta dan pengajar menggambarkan diri mereka sebagai “Reformed dan covenantal.” Istilah ‘”Reformed” dan “Covenant” digunakan bersama dengan begitu luas sehingga membuat kita memahami mengapa keduanya terkait.
Teologi Covenant merujuk kepada salah satu kepercayaan dasar yang Calvinis pegang mengenai Alkitab. Semua orang Protestan yang tetap setia kepada warisan menegaskan Sola Scriptura, kepercayaan bahwa Alkitab ialah otoritas yang tertinggi dan tidak terbantahkan. Bagaimanapun, teologi Covenant membedakan pandangan Reformed mengenai Kitab Suci dari pandangan kaum Protestan lain dengan menekankan bahwa covenant ilahi menyatukan pengajaran seluruh Alkitab.
Perkembangan awal dalam Reformed, pemahaman covenantal mengenai Kitab Suci mencapai puncaknya di Inggris pada abad ke tujuhbelas dengan Pengakuan Iman Westminster (1646), Deklarasi Savoy (1658), Pengakuan Baptis London di tahun 1689, dan setiap perwakilan kelompok yang berbeda dari Calvinis berbahasa Inggris. Dengan hanya sedikit sekali variasi di antara mereka, dokumen-dokumen ini masing-masing mencurahkan sebuah bab penuh tentang jalan covenant Allah dengan manusia, yang menyingkapkan kesatuan dari semua yang Alkitab ajarkan.
Sebagai contohnya, Pengakuan Iman Westminster berbicara mengenai kerendah hatian Allah untuk menyingkapkan diri-Nya kepada manusia dengan cara covenant. Ini kemudian membagi seluruh sejarah Alkitab hanya ke dalam dua covenant: “covenant kerja” (covenant of works) dalam Adam dan “covenant Anugerah” (covenant of grace) di dalam Kristus. Covenant kerja adalah rencana Allah dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Covenant anugerah mempengaruhi sisanya di dalam Alkitab. Dalam pandangan ini, semua tahap covenant anugerah adalah sama secara substansi. Mereka berbeda hanya karena Allah mengurs satu covenant anugerah-Nya di dalam Kristus dalam bermacam cara di sepanjang sejarah Alkitab.
Sepanjang garis yang sama ini sejumlah teolog Reformed yang lebih belakangan telah menegaskan kesatuan covenantal dari Kitab Suci dengan menghubungkan covenant biblikal tertentu dengan apa yang Perjanjian Baru sebut “Kerajaan Allah.” Yesus mengindikasikan kepentingan Kerajaan Allah dalam kata-kata pembuka Doa Bapa kami: “Bapa Kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:9-10). Kata-kata Yesus yang pertama menandakan bahwa yang tujuan terutama dari sejarah ialah kemuliaan dan hormat bagi Allah sendiri. Tetapi, kata-kata-Nya juga mengindikasikan bahwa Allah akan menerima kemuliaan ini melalui kedatangan Kerajaan-Nya di bumi sebagai terjadi di sorga. Tujuan Allah adalah selalu menerima pujian kekal dari setiap ciptaan dengan mendirikan Kerajaan-Nya yang mulia di bumi. Meminjam pujian yang sangat terkenal dalam Wahyu 11;15, di akhir sejarah “kerajaan dunia akan menjadi Kerajaan Allah kita dan Kristus-Nya (TB LAI: Dia yang diurap-Nya), dan Dia akan memerintah selama-lamanya.
Penemuan arkeologis belakangan telah menunjukkan bahwa bagaimana covenant Allah terkait dengan kerajaan-Nya di bumi. Dalam zaman Alkitab, banyak raja bangsa-bangsa mendukung Israel yang menjalankan ekspansi kerajaan mereka melalui persetujuan internasional. Sarjana Alkitab telah memperhatikan paralel yang luar biasa di antara persetujuan kuno ini dan covenant biblikal dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Kristus. Kesamaan-kesamaan ini menandakan bahwa Kitab Suci menghadirkan covenant sebagai cara Allah mengatur ekspansi kerajaan-Nya di bumi.
Covenant alkitabiah menekankan apa yang diperlukan pada tahap khusus tentang Kerajaan Allah dengan melanjutkan prinsip-prinsip covenant sebelumnya. Allah mulai dengan Adam untuk menyingkapkan kerajanian-Nya sendiri, peran manusia, dan tujuan akhir yang Dia telah canangkan untuk dunia (Kej. 1-3). Prinsip-prinsip ini terus dibawa ke depan sebagaimana Allah menjanjikan kestabilan dalam alam untuk pelayanan manusia dalam covenant Nuh (Kej. 6, 9). Allah mempertinggi covenant-Nya sebelumnya dengan menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi kerajaan yang besar dan menyebarkan berkat Allah kepada bangsa-bangsa lain (kej. 15, 17). Allah akan membangun di atas covenant ini dengan memberkati Israel dengan hukum-Nya di masa Musa (Kel. 19-24). Setiap covenant sebelumnya dibawa kepada ketinggian yang baru ketika Allah membangun dinasti Daud dan menjanjikan bahwa salah satu keturunannya akan memerintah dalam kebenaran atas Israel dan atas seluruh dunia (Mzm. 72; 89; 132). Semua covenant Perjanjian Lama kemudian dilanjutkan dan digenapi di dalam Kristus (Yer. 31:31; 2Kor. 1:19-20). Sebagai keturunan terbesar dari Daud, hidup, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatanganNya secara kekal menjamin perubahan seluruh dunia kepada Kerajaan Allah yang mulia.
Banyak orang Kristen Injili hari ini menemukan kesulitan untuk memercayai bahwa semua yang ada dalam Kitab Suci setelah Kejadian 3:15 mengenai Kerajaan Allah, dijalankan melalu penyingkapan sebuah covenant anugerah. Mayoritas orang Injili Amerika memandang Kitab Suci terbagi atas periode waktu yang dikuasai oleh prinsip-prinsip teologis yang berbeda secara substansial. Ketika orang Kristen mengikuti pendekatan populer ini, tidak lama sebelum mereka menjadi yakin bahwa covenant baru dari masa kita sebenarnya aneh dengan banyak aspek dari Perjanjian Lama.
Setidaknya tiga isu sering muncul ke depan: perbuatan (works) dan anugerah, iman kelompok (corporate) dan pribadi, dan perhatian spiritual dan duniawi. Pertama, banyak orang Injili memercayai bahwa penekanan Perjanjian Lama pada perbuatan baik tidak sesuai dengan keselamatan oleh anugerah melalui iman di dalam Kristus. Kedua, hubungan kelompok Israel dengan Allah sebagai sebuah komunitas nampak digantikan oleh sebuah fokus pada relasi pribadi seseorang dengan Allah. Ketiga, banyak orang Injili memercayai bahwa Perjanjian Lama ada untuk mendirikan kerajaan duniawi bagi Allah yang kontras dengan penekanan Perjanjian Baru pada kerajaan rohani di dalam Kristus.
Teologi Covenant telah memampukan teolog Reformed untuk melihat bahwa Perjanjian Baru sebenarnya cukup sama dengan Perjanjian Lama dalam tiga area ini. Pertama, dalam pandangan keselamatan oleh anugerah melalui iman di dalam Kristus adalah satu-satunya cara keselamatan alam kedua perjanjian. Seluruh Alkitab membicarakan perbuatan baik karena iman yang menyelamatkan selalu enghasilkan buah ketaatan kepada Allah. Kedua, teologi covenant menolong kita melihat bahwa kedua perjanjian berbicara tentang relasi pribadi dan kelompok dengan Allah. Semua covenant Allah berurusan dengan orang-orang pada kedua level tersebut. Ketiga, teologi covenant telah menunjukkan bahwa Kerajaan Allah selalu duniawi dan rohani. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berfokus pada pelayanan kita dalam dua dunia tersebut. Dalam satu dan lain cara, teologi covenant memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada komunitas Injili yang lebih luas. Di saat yang sama, ada keperluan yang bertumbuh untuk teologi covenant untuk dipertegas dengan kuat dalam lingkaran orang Reformed masa kini. Dalam dekade belakangan, banyak pembela teologi Reformed yang lebih baru telah mengabaikan teologi covenant.
Lagi dan lagi, kita menemukan bahwa teologi Reformed telah direduksi kepada apa yang kita sering sebut doktrin anugerah – kepercayaan familier seperti kerusakan total (total depravity), pemilihan tanpa syarat (unconditional election), penebusan terbatas (limited atonement), anugerah yang tidak bisa ditolak (irresistible grace), dan ketekunan orang-orang kudus (perseverance of the saints). Tentu saja, kita seharusnya menghargai kebenaran-kebenaran Kitab Suci ini, tetapi waktu kita gagal menekankan kerangka yang lebih luas yang teologi covenant berikan, pemahaman kita tentang Alkitab segera mulai kacau dalam tiga area yang sama.
Pertama, doktrin anugerah tanpa teologi covenant telah membawa beberapa orang memercayai bahwa teologi Reformed perhatian utamanya mengajarkan bahwa anugerah Allah menopang kehidupan orang Kristen dari permulaan hingga akhirnya. Tentu saja, ini benar. Tetapi, covenant kedua perjanjian secara konsisten mengajarkan bahwa Allah selalu memerlukan usaha penentuan dari umat-Nya sebagai respon kepada anugerah-Nya dan Dia akan membalas ketaatan dan menghukum ketidaktaatan.
Kedua, terpisah dari teologi covenant, banyak orang dalam lingkup kita terlihat berpikir bahwa teologi kita semuanya tentang menemukan keunikan cara Reformed bagi individu-individu untuk mengembangkan relasi mereka dengan Tuhan. Dalam zaman kita, sejumlah langkah menuju kesucian prbadi dan kesalehan telah diperlakukan sebagai ciri sentral dari teologi Reformed. Sepenting individu dalam Alkitab, teologi covenant menyoroti relasi bersama kita dengan Allah juga. Tidak ada covenant alkitabiah yang dibuat hanya dengan satu orang. Mereka juga meliputi relasi yang Allah bangun dengan sekelompok orang. Karena alasan ini, kedua perjanjian mengajarkan kita bahwa keluarga orang percaya ialah komunitas covenant dimana dalamnya kemurahan Allah disalurkan dari generasi ke generasi lain. Lebih lagi, gereja yang kelihatan di dalam kedua perjanjian ialah komunitas covenant dimana dalamnya kita menerima Injil dan perangkat umum dari anugerah.
Ketiga, doktrin anugerah dapat denga mudah memberi kesan bahwa teologi Reformed hanya terkait soal spiritual. Banyak orang dalam lingkup kita sangat memperhatikan perubahan batiniah melalui pemahaman Kitab Suci yang benar. Tetapi, kita sering mengabaikan efek sosial dan fisikal dari dosa dan keselamatan. Teologi covenant memberi kita sebuah visi yang lebih besar dan lebih memaksa tentang pengharapan kita sebagai orang Kristen. Dalam kedua perjanjian, orang-orang percaya memperluas Kerajaan Allah baik secara rohani maupun duniawi. Kita harus mengajarkan Injil Kristus kepada semua bangsa supaya orang-orang mungkin diubahkan secara rohani, tetapi pembaharuan spiritual ini demi perluasan ketuhanan Kristus dalam semua faset budaya di seluruh dunia.
Kesimpulan mengatakan bahwa teologi covenant memiliki lebih banyak hal untuk ditawarkan kepada setiap orang Kristen. Sehingga ketika kita bertanya pada diri kita sendiri, “apa itu teologi Reformed?” akan sangat berguna jika kita merespon, “teologi Reformed ialah teologi covenant.”


Catatan Akhir:
[*] Dr. Richard L. Pratt, Jr (Th.D, Harvard University) ialah salah seorang teolog Perjanjian Lama yang sangat brilian pada masa ini. Dia adalah salah satu anugerah Tuhan bagi kekristenan Injili masa kini. Ketelitan, logis, komprehensif, dan aplikatif adalah ciri-ciri pembahasannya. Dia telah menulis banyak buku yang sangat baik, beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Momentum maupun SAAT (Dirancang bagi Kemuliaan, judul asli Designed for Dignity; Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus, judul asli Every Thought Captive; Dia Berikan Kisah-Nya, judul asli He Gave Us Stories). Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisannya yang berjudul, “Reformed Theology is Covenant Theology,” yang dibaca di sini
Trans. Dr. Richard L. Pratt Jr (Th. D, Harvard University) is a one of the most briliant Old Testament theologians today. He is one of God’s gifts for Evangelical Christianity this day. Thorough, logic, comprehensive, and applicable are his main styles in writing. He has authored many very good books which some of them has been translated into Indonesian either by Momentum or SAAT (SEABS; South East Asia Bible Seminary: Dirancang bagi Kemuliaan for Designed for Dignity; Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus for Every Thought Captive; Dia Berikan Kisah-Nya, for He Gave Us Stories). This article is translated from his writing entitled “Reformed Theology is Covenant Theology,” that could be read at here
[1] Secara umum, kata “covenant” biasanya diterjemahkan menjadi ‘perjanjian.” Akan tetapi, penerjemahan tersebut sebenarnya tidak terlalu tepat sebab kata “perjanjian” terlalu sempit untuk memuat makna yang dikandung kata “covenant.” Beberapa orang berusaha menransliterasikan kata “covenant” menjadi “kovenan,” namun tindakan ini sendiri tidak terlalu tepat karena kata tersebut bukan kata yang baku dalam bahasa Indonesia. Maka dari itu, mengingat tidak adanya padanan kata, saya tetap mempertahankan kata ini dalam bahasa Inggris.

Rabu, 30 Maret 2011

Transfigurasi Yesus (Mrk. 9:1-10): Beberapa Refleksi Biblikal-Teologis


Oleh:  Prof. Daniel B. Wallace, Ph. D


Cranfield menyimpulkan bab pembahasannya soal peristiwa ini dengan mencatat tiga pertanyaan utama: (1) apakah peristiwa ini merupakan sebuah legenda atau sebuah serpihan tulisan simbolis-teologis ataukah peristiwa ini merupakan peristiwa historis? … (2) Maka, jika Mrk. 9:2-8 dalam beberapa pengertian merupakan narasi historis, apa yang sebenarnya terjadi? … (3) Apa signifikansi teologis dari apa yang dicatat dalam Mrk. 9:2-8 tersebut? Kita akan mulai dengan jawabannya, dan menambahkan beberapa modifikasi di sepanjang pembahasan.

1. Apakah kisah ini legenda atau historis? Bultmann, Nineham, Perin, dan yang lainnya, menolak kisah ini sebagai kisah yang benar, menyebutnya sebuah perkembangan dari legenda kebangkitan. Bagaimanapun, hal ini tidak sama dengan laporan kebangkitan dalam beberapa hal: (a) Semua penampakan kebangkitan (the resurrection appearances) dimulai dengan absennya Yesus, sementara dalam kisah ini Ia hadir; (b) Dia berbicara dalam penampakan kebangkitan dan apa yang Dia katakan signifikansinya besar, sementara dalam kisah ini Dia diam; (c) Jika kisah ini merupakan penampakan kebangkitan Yesus kepada Petrus, seseorang mungkin mengharapkan kemunculan beberapa cirri khusus seperti dalam Yohanes 21; semua cirri khusus kurang ditampilkan di sini; (c) Musa dan Elia tidak pernah muncul dengan Yesus dalam kisah kebangkitan; hanya malaikat-malaikat yang nampak dalam perikop tersebut dan tidak pernah bersama Yesus; dan (e) Usulan Bultmann tidak memperhitungkan usulan Petrus tentang tenda. Di sisi lain, ada beberapa ciri dalam kisah ini yang memberikan stempel otentisistas: (a) Penyebutan “setelah enam hari” yang tidak memiliki makna simbolis dan dengan demikian, sederhananya, merupakan catatan sejarah; (b) Penggunaan istilah Rabbi oleh Petrus, yang tidak pernah digunakan untuk Yesus di luar Injil, dan di dalam Injil hanya untuk narasi pra-penyaliban; dan (c) Markus tidak memberikan petunjuk sama sekali bahwa dia sedang memberikan kita sesuatu yang lain daripada sebuah kisah sejarah. (d) 2Pet. 1:16-18 adalah kesaksian Petrus sendiri mengenai historisitas peristiwa ini (lihat catatan NET Bible di sana) (namun, karena otentisitas 2 Petrus diragukan oleh banyak sarjana – termasuk Cranfield – maka nas itu jarang disebut sebagai bukti di samping historisitas peristiwa ini)

2. Jika peristwa ini dianggap sebagai peristiwa sejarah actual, apa yang sebenarnya terjadi? Ada tiga pilihan: (a) sebuah penglihatan, (b) peristiwa yang factual, atau (c) kombinasi antara keduanya. Dua faktor perlu dipertimbangkan dalam menjawab pertanyaan ini: Pertama, kita diingatkan pernyataan Paulus mengenai seorang pria yang dia tahu (meski ini kemungkinan otobiografi) yang mengunjungi surge ketiga: “Aku tahu seseorang di dalam Kristus yang empat belas tahun lalu – apakah di dalam tubuh ataukah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allahlah yang tahu – orang itu diangkat ke surga yang ketiga” (2Kor. 12:2). Ketidakmampuan Paulus untuk membedakan penglihatan dari peristiwa faktual dalam hidupnya ketika kemuliaan sorga datang mungkin bisa diparalelkan dengan transfigurasi. Kedua, meski Cranfield mengatakan bahwa tranfigurasi bermakna untuk para murid, jika itu juga bermakna untuk Yesus, ini mungkin akan mewarnai penilaian kita terhadap catatan peristiwa. Dalam terang pewahyuan diri, Yesus telah menubuatkan enam hari sebelumnya tentang penderitaan dan kematian-Nya, dan dalam terang parallel dengan suara surgawi saat pembaptisan-Nya yang diikuti dengan pencobaan, ini mungkin terlihat bahwa transfigurasi menjadi dorongan yang sama untuk Yesus. Kehadiran Elia dan Musa dengan Dia dalam awan akan menegaskan langkah-Nya kepada salib dan mengingatkan Dia tentang perlunya salib, sebagaimana Paulus katakan: ”Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya … untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Rm. 3:21-22, 25)

Dengan dua faktor ini di pikiran kita, apa yang bisa kita katakana? Di satu sisi, jika transfigurasi memiliki makna hanya untuk para murid, maka apakah itu sebuah visi atau sebuah fakta, kejadian sensorik hanya berdampak kecil, karena pertanyaan yang sama tetap tidak dijawab oleh Paulus mengenai surga ketiga tetapi peristiwa tersebut menjadi sumber dorongan besar baginya untuk terus (bnd. 2Kor. 12:4-5). Di saat yang sama, jika 2 Petrus otentik (dan saya percaya demikian), maka pernyataan Petrus sendiri tentang transfigurasi adalah bahwa itu merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar penglihatan; dia menganggapnya sebagai peristiwa factual yang asli, pengalaman inderawi (bnd. 2pet. 1:16-18). Di sisi lain, jika peristiwa ini memiliki makna untuk Yesus sebagaimana untuk para murid, yakni, itu berarti menjadi sebuah dorongan untuk-Nya juga – maka itu pasti sebuah peristiwa factual, karena sebaliknya, bagaimana kita menjelaskan keberadaan-nya yang menjadi bagian dari penglihatan dan penerima penglihatan tersebut?

3. Kita menyimpulkan dengan catatan mengenai beberapa signifikansi teologis dari transfigurasi. Komentar berikut hanyalah pembukaan; sebenarnya, itu akan memakan waktu bertahun-tahun, bahkan mungkin sepanjang hidup, untuk menyelidiki kedalaman makna tranfigurasi. (a) Itu menyimbolkan dan membayangkan (foreshadow) baik kebangkitan dan kedatangan Kristus (parousia). (b) Itu adalah sebuah penyingkapan sementara dari kemuliaan kekal Anak Allah. (c) bahwa kemuliaan ini terlihat dan tidak dirinci adalah supaya “murid-murid bisa mengecap bagian yang tidak bisa diahami seutuhnya (Calvin). Yakni, sebagaimana amsal Tiongkok kuno, “sebuah gambar yang layak untuk ribuan kata.” (d) Musa dan Elia adalah bagian dari gambar tersebut untuk menunjukkan kesinambungan dengan Perjanjian Lama dalam pelayanan Yesus dan keunikan-Nya dan otoritasnya yang mutlak (karena itu Dia saja yang mengenakan pakaian yang luar biasa, dan hanya Dia saja yang diidentifikasi dari sorga sebagai Satu-satunya yang harus ditaati). (e) Awan merupakan sambungan Shekinah Glory: kehadiran Allah telah kembali secara utuh dalam diri Yesus Kristus. Dan Musa dan Elia ada di sana, dengan senyap menyokong Dia sebagai Pribadi dimana manusia bertemu Allah.

Dua poin terkahir kita lebih banyak diambil dari 2 Petrus daripada Markus; mereka merepresentasikan refleksi Petrus sendiri tentang signifikansi transfigurasi. (f) Keyakinan tentang kemuliaan Kristus ditransferkan kepada orang percaya: mereka juga akan dimuliakan dan fakta ini seharusnya memberi mereka keyakinan saat mengahadapi kematian (bnd. 2Pet. 1:16-18; 1Yoh. 3:2). (g) Keyakinan tentang kemuliaan Kristus juga memberi orang-orang percaya keyakinan dalam Dia sebagai seorang nabi dan mereka yang Ia berikan kuasa untuk menjadi nabi (2Pet. 1:16-21). Kesimpulannya, transfigurasi merupakan sebuah bagian dari kemuliaan sorgawi yang bahkan Rasul Paulus singgung ketika dia menulis: “logidzomai gar hoti ouk axia ta pathermata tou nun kairou pros ten mellousan doxan apokaluphthenai eis hemas” (Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita; Rm. 8:18)


Tentang Penulis:
Prof. Daniel Wallace (Ph.D, Dallas Theological Seminary) adalah seorang pakar Perjanjian Baru dari Dallas Theological Seminary. Beliau telah menulis banyak buku dan artikel yang sangat baik mengenai Kekristenan dan Perjanjian Baru. Bukunya Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament (Zondervan, 1996) telah menjadi buku standar di banyak seminari. Beliau juga editor Perjanjian Baru senior di NET Bible, dan direktur eksekutif dari Center for the Study of New Testament Manuscripts. Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisannya yang berjudul “The Transfiguration of Jesus (Mark 9.1-10): Some Biblico-Theological Reflections,” yang bisa diunduh di http://bible.org/article/transfiguration-jesus-mark-91-10-some-biblico-theological-reflections

Rabu, 09 Maret 2011

2 Timotius 3:15-17 dan Pengilhaman

Salah satu bagian dalam Surat 2 Timotius yang sangat terkenal ialah pasal 3:15-17. Ayat ini merupakan ayat utama yang sering dipakai untuk menerangkan konsep pengilhaman (inspirasi) yang alkitabiah. Berbicara mengenai konsep pengilhaman, ada beberapa konsep pengilhaman yang muncul dalam ranah teologi Kristen, di antaranya adalah:
a.       Pengilhaman Natural: Allah tidak mengilhamkan apa-apa. Karya sastra yang termaktub dalam Alkitab, hanya merupakan sebuah karya manusia belaka. Semua kelebihan yang ada merupakan hasil kejeniusan mereka, sementara segala kekurangan yang timbul adalah konsekuensi dari keterbatasan mereka sebagai manusia.
b.      Pengilhaman Parsial: Dalam pandangan ini, Allah tidak mengilhamkan seluruh bagian firman Allah (cf. Alkitab berisi firman Allah). Jadi, ada bagian-bagian yang merupakan firman dan ada bagian-bagian yang bukan firman Allah. Pandangan ini sendiri masih mempunyai beberapa cabang lagi:
  • Allah mengilhamkan bagian-bagian yang sulit (nubuatan, penglihatan, dsb), sedangkan bagian-bagian yang mudah (manusiawi) merupakan karya manusiawi penulis.
  • Sebaliknya, beberapa orang meyakini bahwa justru bagian yang mudah lah yang diilhamkan Allah, sementara bagian-bagian yang sulit merupakan hasil imajinasi penulis yang berlebihan.
  • Bagian-bagian Alkitab yang berkaitan dengan iman dan praktek hidup Kristen ialah yang diilhami Allah, sedangkan bagian lainnya seperti sejarah, ilmu pengetahuan, dll tidak diilhami sehingga bisa salah
c.       Pengilhaman Konseptual: Allah hanya mengilhamkan konsep kepada seseorang, bukan isinya. Sehingga isi, tulisan atau pemilihan kata penulis Alkitab bisa saja salah, tetapi konsepnya lah yang tidak bisa salah.
d.      Pengilhaman Mekanis: Allah mendiktekan wahyu-Nya kepada para penulis dengan tujuan menjamin akurasi makna dan tujuan, sehingga kata-kata yang disampaikan merupakan kata-kata yang dikehendaki-Nya. Para penulis bersikap pasif dan hanya menjadi sekretaris untuk menuliskan kata-kata yang diperintahkan Allah.
e.       Pengilhaman Bertingkat: Allah memang mengihamkan seluruh isi Kitab Suci, tetapi tidak semuanya sama atau setara dalam kepentingan atau derajatnya.
f.       Pengilhaman Neo-Ortodoks: Alkitab merupakan karya manusia yang menyaksikan Kristus. Pada diri-Nya sendiri, Alkitab bukanlah firman Allah yang diilhamkan. Namun, Alkitab akan menjadi firman Allah ketika “berbicara” kepada kita. Alkitab adalah sebuah karya yang bisa salah; pasti benar hanya ketika dia berbicara kepada kita.
Telaah yang tepat terhadap 2 Timotius 3:15-17 akan menyingkapkan bagaimanakah konsep yang tepat mengenai pengilhaman.
Menurut konteks umumnya, kata “segala tulisan” di sini merujuk pada keseluruhan kitab suci, sedangkan konteks sempitnya, kitab suci yang ada pada masa Paulus dan Timotius, yakni Perjanjian Lama. Akan tetapi, ternyata tulisan Perjanjian Baru juga disebut sebagai Kitab Suci, baik Injil (1 Tim. 5:18; cf. Luke 10:7) maupun surat-surat (2 Pet. 3:15–16). Sehingga, kesimpulannya, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan Kitab Suci. Lantas, apakah yang dikatakan Paulus mengenai Kitab Suci dalam bagian ini?
Pertama, Paulus menyebut bahwa yang diilhamkan ialah tulisannya. Artinya, yang tidak bisa salah ialah tulisannya (bukan sekedar konsepnya; kontra Pengilhaman Konsep), termasuk penggunaan dan pemilihan kata, serta sintaksisnya. Beberapa bukti nyata di antaranya:
Ø  Ada beberapa kasus Yesus mendasarkan argumentasinya pada satu kata. Misalnya Mat. 22:43-45 cf. Maz. 110:2 = seluruh argumentasi didasarkan pada kata  ku,rioj (Tuhan); Yoh. 10:34-35 cf. Maz. 82:5 = seluruh argumentasi didasarkan pada kata  qe,oj (Allah).
Ø  Ada satu contoh Yesus mendasarkan seluruh argumentasi pada tense suatu kata. Mat. 22:32 = “I am (present tense) the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob” untuk membuktikan bahwa Allah adalah Allah orang hidup, bukan orang mati (baca: Abaraham, Isak dan Yakub pada saat Allah mengatakan ini masih hidup [di surga], sekalipun secara fisik mereka sudah mati).
Ø  Ada satu contoh Paulus mendasarkan seluruh argumentasi pada jumlah (tunggal atau jamak) suatu kata. (Gal. 3:16 = keturunanmu (tunggal) yang merujuk pada Yesus Kristus).
Ini berarti pula bahwa penekanannya ada pada isi dan tulisannya bukan pengarangnya. Pengarang atau penulis Alkitab tentu bisa salah, akan tetapi mereka pasti benar ketika mereka menulis firman Allah yang tertulis (Kitab Suci).
Kedua, yang diilhamkan adalah semua tulisan. Frase “segala tulisan yang diilhamkan” (TB-LAI) merupakan terjemahan yang kurang tepat. Frase ini mengesankan bahwa ada bagian-bagian yang diilhamkan dan ada yang tidak (seperti Pengilhaman Parsial). Bentuk kata bendanya bukanlah kata benda atributif (yang) tetapi predikatif (adalah). Sehingga frase ini lebih tepat diterjemahkan “segala tulisan adalah diilhamkan Allah.” Seperti sudah disebut, segala tulisan di sini merujuk pada Kitab Suci yang ada, sehingga ini berarti “seluruh Kitab suci (segala tulisan) adalah diilhamkan Allah” (kontra Pengilhaman Parsial), baik itu bagian yang sulit maupun yang mudah, yang praktis maupun doktrinal-teoritis, semuanya diilhamkan Allah.
Ketiga, kata diilhamkan di sini bukan berarti bahwa Allah menghembuskan ke dalam, tetapi dihembuskan keluar. Jadi idenya, Allah menghembuskan Alkitab keluar. Alkitab merupakan hembusan dari dalam diri Allah. Ini berarti keseluruhan isi Alkitab merupakan isi hati Allah (kontra Pengilhaman Natural), sehingga tentunya setara dalam derajatnya (kontra Pengilhaman Bertingkat). Tidak ada bagian yang lebih bernilai dan kurang bernilai. Semuanya setara dalam nilainya sebab semuanya merupakan isi hati Allah, dan semuanya menyaksikan Kristus (kontra Pengilhaman Neo-Ortodoks).
Keempat, karena segala tulisan ini merupakan isi hati Allah atau wahyu Allah, maka nilai atau otoritas dari tulisan ini merupakan sesuatu yang inheren dan bukan berasal dari luar. Tidak ada pribadi atau institusi apapun, termasuk gereja, yang berhak menjadi pemberi otoritas terhadap sebuah kitab, melainkan kitab itu berotoritas dengan sendirinya sebab ditulis oleh orang-orang yang diberi Allah otoritas untuk menyampaikan firman-Nya.
Kelima, segala tulisan ini bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Kata “bermanfaat” di sini menyiratkan kecukupan (sufficiency) Kitab Suci, sedangkan ungkapan mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, menurut konteksnya, terkait dengan frase di ayat 15, “memberi hikmat kepada keselamatan oleh iman di dalam Kristus Yesus.”1 Bahkan, ayat 17 juga mempertegas bahwa dengan demikian (dengan adanya Kitab Suci), seseorang “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Kata “diperlengkapi” ini memiliki makna komplit atau utuh. Sehingga, dari sana, bisa disimpulkan bahwa Kitab Suci merupakan perangkat yang cukup (bukan sempurna) untuk menuntun kepada keselamatan. Kitab Suci merupakan landasan yang pantas bagi pengajaran dan doktrin sebab Kitab Suci ialah hembusan nafas (isi hati) Allah; sebuah perangkat dimana kita bisa mengenal isi hati Allah.2 Konsep ini sering disebut sebagai doktrin Sufficiency of the Bible atau Sola Scriptura
Lalu bagaimana dengan Pengilhaman Mekanis? 2Pet. 1:21 memberi jawaban bahwa ketika Allah mengilhami seseorang, Ia tidak memperkosa kreatifitas mereka ataupun mematikan kebebasan mereka. Ungkapan “dirorong” memiliki makna seperti sebuah kapal yang digerakkan oleh angin. Sang nahkoda bisa saja bergerak ke kanan atau ke kiri tetapi untuk majunya kapal tersebut, angin tetap memiliki peranan utama. Sehingga, ide yang dikemukakan oleh Petrus di sini, bukanlah Pengilhaman Mekanis melainkan Pengilhaman Organik: penulis menulis dengan kreasi mereka tetapi Roh Kudus menuntun mereka sehingga arahnya sesuai dengan apa yang diinginkan Roh Kudus, termasuk tidak bisa salah (Yoh. 14:16-17, 26; 16:13).
Fakta-fakta ini seharusnya membuat umat Tuhan makin memaknai dan menghargai Kitab Suci dengan sungguh-sungguh, sebab Kitab Suci merupakan ungkapan isi hati Allah yang di dalam-Nya kita menemukan kehendak-Nya bagi kita. Alkitab memang adalah karya manusia, sehingga dalam taraf tertentu harus diperlakukan dengan azas-azas yang logis, tetapi di saat yang sama ia juga karya Allah, sehingga seseorang harus menyadari keterbatasannya dalam menjelaskan keunikan dan isi Alkitab.


Endnotes:
1 Terjemahan LAI, “memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” bukanlah terjemahan yang tepat. Terjemahan ini mengesankan adanya dua tujuan, yakni “memberi hikmat” dan “menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus.” Dalam teks Yunaninya tidak ada kata sambung kai yang menunjukkan bahwa dua hal ini tidak terpisah tetapi terkait. Karena itu, frase ini akan lebih tepat diterjemahakan “memberi hikmat kepada keselamatan oleh iman di dalam Kristus Yesus.”
2 Beberapa kelompok, yang memegang erat tradisi, biasanya berargumen bahwa cukup di sini bukan berarti tidak membutuhkan tambahan. Mereka merasa bahwa Kitab Suci memerlukan suplemen yang setara, yakni tradisi bapa-bapa gereja. Akan tetapi, konsepsi demikian jelas tidak bisa diterima karena:
1.      Tulisan bapa gereja tidak memiliki wibawa apostolik dan tentunya tidak diilhamkan sehingga pasti bisa salah. Agustinus pun mengakui bahwa yang tidak bisa salah hanyalah Kitab Suci (Letters 82.3). Lagipula, tidak ada bapa gereja yang mengklaim tulisannya sebagai firman Allah. Tulisan bapa gereja, mayoritas, merupakan refleksi terhadap tulisan para rasul. Ini terlihat dari bagaimana seringnya mereka mengutip tulisan para rasul (Perjanjian Baru).
2.      Paulus memang mementingkan tradisi lisan (2Tes. 2:15) tetapi ia tidak menyebut tradisi sebagai diilhamkan. Lagipula, tradisi itu sendiri seharusnya bersumber dari penelaahan Kitab Suci (Kis. 17:2; 18:28; Rm. 4:3; 15:4; 1Kor. 15:3-4; Gal. 3:8, dsb).
3.      Tradisi atau ajaran yang diajarkan para rasul tentu bisa salah. Ajaran mereka pasti benar saat mereka menuliskannya sebagai Kitab Suci. Ingat bahwa yang diilhamkan ialah tulisannya, bukan penulisnya.
4.      Para murid dikuduskan bukan dengan tradisi tetapi dengan firman Allah (Yoh. 17:17).
5.      Tuhan Yesus menentang tradisi yang diletakkan di atas Kitab Suci atau bertentangan dengan Kitab Suci (lihat Mat. 15:1-9).