ABBA = Ayo Bersama Baca Alkitab

Desiring the Truth! Loving the Truth! Living for the Truth!
Soli Deo Gloria

Selasa, 30 November 2010

Mengapa Penafsiran Kita Harus Trinitarian?

Hermeneutik (penafsiran kita) harus Trinitarian karena Allah, Pencipta, Penebus, dan Penggenap, adalah Trinitarian. Ketika kita menafsirkan baik kita menafsirkan firman Allah atau karya Allah, kita perlu untuk memperhitungkan siapakah Dia. Segala sesuatu yang kita tahu tentang Dia, termasuk karakter Trinitarian-Nya, secara potensial mempengaruhi pemahaman kita mengenai firman dan karya-Nya. Lebih lagi, ketika seseorang memperkenalkan konsep yang salah tentang Allah, entah itu deistik, penteistik, unitarian, atau modalistic, kesalahan-kesalahan tersebut tidak akan terhindarkan lagi dalam mempengaruhi penafsiran arti firman dan karya Allah, karena makna dipengaruhi oleh konsepsi seseorang tentang pengarang. Efeknya mungkin sering menjadi tidak kentara, namun terkadang juga dramatis.

Rasionalitas
Satu dari lebih banyak efek yang jelas muncul melalui perbedaan dalam ide orang-orang mengenai rasionalitas. Biasanya, orang-orang menolak Trinitas karena menuduhnya tidak rasional, dan menggantikannya dengan sebuah konsep yang rasional tentang Allah, menyesuaikan dengan perkiraan kejatuhan manusia. Alasan kejatuhan manusia menjadi ukuran tentang apa yang Allah bisa dan tidak bisa lakukan. Maka, tentu saja, seseorang bisa memperkirakan alasan manusiawi untuk memahaminya, melebihi penafsiran dari firman dan karya Allah juga.
Berbeda dengan itu, di dalam teologi Trinitarian kita mengakui bahwa Allah tidak bisa dipahami (incomprehensibilty), karena kettidakterbatasan-Nya, namun bahwa Ia dapat dikenal (knowability) karena wahyu mengenai diri-Nya di dalam Kitab Suci dan di dalam dunia (Roma 1:18-23). Sinyal ini, akses kepada kebenaran dan bahwa kebenaran total tidak bisa dipahami, mempersiapakan cara pendekatan penafsiran dalam sebuah cara yang rasional, bukan rasionalistik.

 

Penebusan

Pentingnya Trinitas secara khusus terkait dalam konteks penebusan. Allah Bapa berdaulat mengontrol peristiwa dalam sejarah dan peristiwa dalam kehidupan tiap individu yang membawa pada keselamatan pribadi dan kelompok. Allah Anak menggenapi keselamatan, rekonsiliasi, dan pemurnian dari dosa dalam peristiwa penyaliban dan kebangkitan. Allah Roh Kudus menerapkan penebusan kepada setiap individu dan kelompok melalui kedatangan-Nya untuk tinggal di dalam kita. Tentu saja ketiga Pribadi ini terlibat dalam ketiga area tersebut; tapi tiap Pribadi memiliki peran-Nya sendiri.

Tiap tindakan penebusan ini memiliki makna untuk penafsiran. Kontrol Bapa atas sejarah mencakup kendali-Nya atas semua firman yang Ia berikan pada manusia, baik melalui suara langsung seperti di Gunung Sinai, atau melalui nabi manusiawi seperti Musa dan Yesaya. Kontrol Allah penting untuk diingat dalam penerimaan kita terhadap Alkitab, karena bila sebaliknya, kita mungkin memperlakukan Alkitab, dalam praktiknya, hanya sebagai karya manusia, atau sebuah karya dimana Allah “sedang melakukan yang terbaik yang Dia bisa” dengan keberadaan manusia yang sebagian tidak bisa diajak bekerjasama. Pelaksana penulisan Kitab Suci yang adalah manusia sejati, tidak menyiratkan ketidakbergantungan pada Allah atau pengurangan kontrol Allah, lebih dari Anak menyiratkan ketidakbergantungan-Nya dari Bapa. Kedua, pertimbangkan peran Anak. Karena dosa manusia, kita terpisah dari Allah dan akan mati jika kita berdiri di hadirat-Nya (ingat Keluaran 33:20). Namun menerima firman Allah meliputi penerimaan kehadiran-Nya. Kita akan mati saat membaca Kitab Suci kecuali karena mediasi Anak. Melalui Anak, kita menerima pengenalan tentang Allah tanpa harus mati.

Ketiga, pertimbangkan peran Roh Kudus. Roh Kudus “akan menuntun kamu kepada segala kebenaran” (Yohanes 16:13). Janji dalam Yohanes 16 berfokus pada peran khusus Roh Kudus setelah Pentakosta, dan mungkin juga diterapkan dalam cara yang khusus kepada para rasul. Tetapi prinsipnya mengenai tuntutan Roh Kudus mencakup seluruh karya Roh Kudusdalam pencerahan (iluminasi). Hanya pribadi yang hatinya dibentuk oleh Roh Kudus dan digerakkan oleh ajaran Alkitab, dapat mengerti hal-hal tentang Roh Kudus (1Korintus 2:6-16). Kerohanian diperlukan untuk memahami ajaran Alkitab, seperti orang Kudus si sepanjang zaman yang dikenal. Dan kerohanian ini bukan hanya sensitivitas terhadap beberapa hal yang tidak jelas, namun sebuah pengetahuan rohani tentang hal yang ilahi yang hanya bisa Roh Kudus berikan. Sarjana modern di bawah tekanan rasionalisme cenderung melupakan peranan Roh Kudus ini.

 

Implikasi Lainnya

Ruangan ini terlalu sempit untuk lebih menyentuh lebih banyak hal dibanding dua area dalam penafsiran. Pertama, peran Bapa, Aanak dan Roh Kudus dalam penebusan Trinitarian mengesankan peran yang sejalan dalam komunikasi verbal Allah. Bapa tidak hanya mengontrol sejarah, namun juga mengontrol firman-Nya yang keluar dari mulut-Nya. Dialah pengarang Kitab suci. Anak, sebagai Firman Allah (Yoh. 1:1), bisa secara dekat diasosiasikan dengan isi perkataan Bapa, yang mana menuntun kepada isi makna dari teks Alkitab. dan Roh Kudus ada bersama dengan pembaca manusiawi dalam menafsirkan pesan teks (“apapun yang Dia dengar, Dia akan katakan,” Yohanes 16:13). Karena itu, Bapa bisa diasosiasikan dengan peran Pengarang, Anak dengan peran teks atau tulisan, dan Roh Kudus dengan peran pembaca. Itu tidak membuat pembaca manusia menjadi tidak bisa salah, tetapi untuk mereka yang bersatu dengan Kristus, Roh Kudus datang sebagai pembaca ilahi yang tidak bisa salah, yang menuntun pembaca manusiawi.

Pola pengarang, teks, dan pembaca bisa disamaratakan bahkan melebihi batasan Kitab Suci. Ketika kita menegaskan bahwa Kitab Suci, bukan tulisan lain, ialah firman Allah yang tidak bisa salah, kita juga bisa melihat bahwa keberadaan Allah yang Trinitarian , sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, ialah pola dasar yang ultimat (pokok) di balik semua komunikasi manusia sebagai pengarang yang mengirimkan pesan kepada pembaca. Kesatuan dan perbedaan dalam Trinitas ialah pola dasar untuk memahami kesatuan dalam perbedaan dalam pengarang, pesan dan pembaca.

Karena itu, kita didorong untuk menghindari baik kesalahan unitarian, yang akan merobohkan semua kompleksitas dalam komunikasi manusia ke dalam sebuah blok makna tunggal, dengan tidak menginggalkan perbedaan; dan menghindari kesalahan politesitik yang menggandakan makna dengan semrawut, seperti apa yang terjadi ketika pembaca manusia dilihat sebagai penguasa (tuhan) dari sebuah makna.

Kedua, bahasa manusia mulanya merupakan sebuah pemberian Allah dalam penciptaan, tinimbang hanya sebuah produk yang merupakan kenaikan tingkatan alami manusia dari lumpur. Faktanya, penjelasan Pribadi Kedua dari Trinitarian sebagai Firman (Yohanes 1:1), sebagaimana percakapan di antara Bapa dan Anak dalam sebuah bacaan seperti Yohanes 17, mengindikasikan bahwa bahasa manusia memiliki latar belakang pada bahasa ilahi dalam misteri komunikasi intra-Trinitarian (antar Pribadi Trinitas). Karena itu, pendekatan reduksionistik kepada bahasa harus dievaluasi secara kritis. Dan kita diundang untuk melihat bahwa makna yang jelas yang bahkan pembaca yang sederhana dari Kitab Suci bisa memahaminya membuka pintyu kepada pikiran Allah yang tidak terbatas, dan makna yang tidak terbatas dalam intra-Trinitarian. Karena itu, kategori misteri merupakan milik makna dan dan miliki refleksi hermeneutik terhadap makna.



Bacaan Tambahan:

John M. Frame, The Doctrine of the Knowledge of God (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1987).
Vern S. Poythress, "God's Lordship in Interpretation," Westminster Theological Journal 50/1 (1988) 27-64. Available at <http://www.frame-poythress.org/poythress_articles/1988GodsLordship.htm>.
Vern S. Poythress, "Christ the Only Savior of Interpretation," Westminster Theological Journal 50/2 (1988) 305-321. Available at <http://www.frame-poythress.org/poythress_articles/1988Christ.htm>.
Vern S. Poythress, God-Centered Biblical Interpretation (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1999).

Catatan:
Artikel ini merupakan artikel dari Vern Sheridan Poythress (B.S. and Ph.D in Mathematics, M.Div, Th.M in Apologetics, M.Litt and Th.D in New Testament) yang aslinya berjudul “Why Must Our Hermeneutics Be Trinitarian?,” yang diterbitkan pertama kali dalam jurnal The Southern Baptist Journal of Theology 10/1 (spring 2006), 96-98. Sejak tahun 1976, beliau mengajar di Westminster Theological Seminary, Philadephia, dan kini beliau menjabat sebagai Profesor Penafsiran Perjanjian Baru. Artikel ini sedikit bersifat teknis, karena itu bagi pembaca yang mengalami kesulitan dalam mengerti, bisa meninggalkan pertanyaan lewat post-comment di bawah. Artikel orisinil (dalam bahasa Inggris) bisa juga dilihat di  http://www.frame-poythress.org/poythress_articles/2006Why.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar