ABBA = Ayo Bersama Baca Alkitab

Desiring the Truth! Loving the Truth! Living for the Truth!
Soli Deo Gloria

Jumat, 26 November 2010

Tidak Ada Kitab Suci, Tidak Ada Kristus (by John Frame, M.Phil., D.D.)


Mengapa sangat perlu untuk mempercayai Alkitab yang diinsipirasikan, tidak bisa salah, tidak bisa keliru? Karena Yesus Kristus. Kita di sini tidak tidak sedang membuat poin yang umum tentang relasi antara Kristus dan Kitab Suci. Poin umumnya ialah bahwa Kristus mengesahkan otoritas Perjanjian Lama dan mengesahkan, selanjutanya, otoritas Perjanjian Baru. Point itu sangatlah benar (bnd. Mat. 5:17-19; Yoh. 5:45-47, 10:33-36, 14:26, 15: 26-27, 16:13); tetapi sekarang kita akan membuat sesuatu yang beda, yakni bahwa jika kita tidak meyakini otoritas penuh dari Kitab Suci, maka akan sia-sia bagi kita untuk mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

1.      Kristus Tuhan
Apa artinya mengakui Kristus sebagai Tuhan? Di antara hal-hal lain, itu berarti mengakui bahwa diri kita adalah para pelayan. Dalam Alkitab, pelayan ialah seseorang yang tidak memiliki tuntutan atas Tuhan Allah. Dia mengetahui bahwa dia adalah milik Tuhan (Mzm. 24:1) dan Tuhan mengontrol (Ef. 1:11) semua hal, dan karena itu Dia tidak berhutang sesuatu jasa atau pelayanan kepada siapapun (Ul. 10:14-17). Dia tidak berhutang apa-apa – dan telah memiliki hak untuk menuntut segala sesuatu. Pelayan tidak berhak menuntut apapun kepada Allah, namun Allah memiliki tuntutan mutlak atas hamba tersebut. Mutlak, dalam tiga pengertian:
a.       Itu adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dipertanyakan. Tuhan Allah memiliki hak untuk menuntut ketaatan yang tanpa ragu, yang setia. Tuhan memberkati Abraham karena dia “mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." (Kej. 26:5, LAI). Dia tidak ragu (Rom. 4:20), bahkan ketika Allah memerintahkan pengorbanan putra Abraham, Ishak (Kej. 22:18). Keraguan akan menjadi sebuah dosa.
b.      Tuntutan Tuhan bersifat mutlak juga dalam pengertian bahwa itu melebihi semua tuntutan lain, semua loyalitas lain. Tuhan Allah tidak akan menolerir persaingan; Dia menuntut loyalitas yang eksklusif. Hamba harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatannya (Ul. 6:4; bnd. Mat. 22:37). Seseorang tidak bisa mengabdi pada dua tuan (Mat. 6:22 dst). Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus menuntut – dan menerima – tepatnya, loyalitas seperti ini dari para pengikut-Nya (Mat. 19:16-30; 10:37; 8:19-22; Fil. 3:8). Tuhan menuntut tempat pertama.
c.       Tuntutan Allah, karena itu, juga mutlak dalam pengertian bahwa itu menguasai semua area kehidupan. Apapun yang kita perbuat, bahkan makan dan minum, harus dilakukan untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31; bnd. Rom. 14:23; 2Kor. 10:5; Kol. 3:17). Tidak boleh ada bagian dalam hidup kita dimana Tuhan disingkirkan, dimana Dia dilarang untuk menjalankan otoritasnya.

2.      Kristus Juru Selamat
Bahkan jika kita bukanlah pendosa, kita tetap memiliki Tuhan; kita dipanggil menjadi pelayan Allah, sederhananya, karena kita ialah ciptaan-Nya. Tetapi faktanya kita tidak hanya ciptaan, tapi juga pendosa. Kita kita tidak hanya membutuhkan Tuhan namun juga seorang Juruselamat; kita perlu tidak hanya otoritas tapi juga pengampunan karena tidak menaati otoritas tersebut (Rom. 3:23; 1Yoh. 3:4). Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus, Putra Allah yang kekal, mati di kayu salib untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Rom. 5:8). Tapi sekarang bagaimana kita dapat mengetahui bahwa ini cukup? Kita tahu karena Allah telah mengatakannya kepada kita. Siapa yang dapat mengatakan bahwa dosa kita diampuni? Siapa juga yang dapat menjanjikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada Kristus? Tuhan, yang mengatakan menuntut ketaatan, juga mengatakan menjanjikan keselamatan. Dia yang memfirmankan Taurat, memfirmankan juga Injil. Seperti Abraham (Rom. 4:19-20), dipanggil untuk memeprcayai Injil, sederhananya, karena itu merupakan janji Allah. Kita tahu bahwa orang percaya diselamatkan karena Yesus telah mengatakannya pada kita demikian (Yoh. 5:24). Hanya Tuhan yang bisa mengatakan firman pengampunan, firman yang menyatakan orang berdosa menjadi benar, firman yang menjanjikan hidup yang kekal.

3.      Kristus Pengarang Kitab Suci
Tapi dimana kita bisa menemukan firman yang demikian? Dimana kita bisa menemukan sebuah firman yang membuat tuntutan mutlak atas kita dan membuat janji pengampunan mutlak? Kita harus memilikinya, atau tidak ada harapan. Kita harus memilikinya; jika tidak kita tidak memiliki pengetahuan papun tentang tuntutan Tuhan kita atau janji Juruselamat kita. Tanpa firman yang demikian, sungguh-sungguh kita tidak akan memiliki Tuhan Juruselamat
Teologi liberal atau neo-ortodoks tidak bisa memberikan firman yang demikian. Mereka tidak mengetahui firman apapun dalam pengalaman kita yang bisa menuntut ketaatan yang tidak perlu dipertanyakan, melebihi semua tuntutan, menguasai semua area kehidupan manusia. Mereka tidak mengetahui firman yang bisa mengomunikasikan “kepastian janji Allah” tanpa kekaburan. Maka, dimana kita bisa pergi? Yang lain mengusulkan bahwa Allah memberi tiap kita sebuah wahyu yang pribadi, individu; tetapi mereka yang membuat usulan demikian berbeda secara luas dengan apa yang faktanya Allah telah katakan. Jika mereka semua benar, maka Allah sering bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Apa ujian yang digunakan untuk menentukan kapan Allah, faktanya, berbicara dan kapan Dia tidak berbicara? Bagaimana kita membedakan suara Allah dengan suara iblis dan imajinasi hati kita?
Allah dalam Alkitab mengarahkan umat-Nya kepada sebuah kitab. Untuk menjadi yakin, Dia berbicara kepada beberapa manusia secara pribadi – Abraham, Musa, paulus; tetapi Dia menyuruh umat-Nya sebagai sebuah kesatuan untuk menemukan maksud-Nya dalam sebuah kitab.
Ketika Allah memimipin umat-Nya keluar dari perbudakan Mesir, Dia memberi mereka sebuah kitab (Kel. 24;12). Itu ialah sebuah kitab yang Dia telah tulis sendiri; kata-kata dalam kitab tersebut merupakan firman-Nya sendiri (Kel. 31:18; 32:16). Tentu saja, Dia mengijinkan Musa untuk membantu dengan tulisan (32:47); tapi otoritas tulisan tersebut adalah otoritas ilahi, bukan otoritas manusia semata (Ul. 4:1-8; 5:29-33; 6:4-25; Mzm. 19; 119; Mat. 5:17-20; Yoh. 5:45-47). Kemudian, kitab lainnya ditulis atas perintah Tuhan, menyempurnakan apa yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Lama; kitab yang Yesus genapi baik dalam perkataan dan perbuatan (karena Yesus menundukkan diri-Nya seutuhnya pada Kitab Suci, hidup dalam sebuah jalan yang demikian “supaya genaplah yang dikatakan Kitab Suci”). Gereja Perjanjian Baru menganggap kitab-kitab tersebut sebagai transkrip hukum dan janji Allah. Kitab Perjanjian Lama adalah “dinafaskan Allah” (2Tim. 3:16, terjemahan literal) – yakni, firman yang sebenarnya diucapkan oleh Allah. Juga, kekristenan awal mengakui tulisan-tulisan yang lebih jauh, tulisan para rasul dan orang lain, yang dilihat memiliki bentuk otoritas ilahi yang sama dengan Perjanjian Lama (2Tes. 3:14; 1Kor. 14:37; 2Pet. 3:16). Harus tulisan ilahi yang demikian yang orang percaya harus perhatikan untuk menghindari kebingungan (2Tim. 3; 2pet. 1:12-2:22). Adalah tulisan-tulisan tersebut yang menyatakan firman tentang otoritas tertinggi dan pengampunan yang pasti. Adalah tulisan-tulisan tersebut yang mengutarakan tuntutan mutlak dari Allah dan kepastian janji-Nya, hukum-Nya dan Injil-Nya. Adalah tulisan-tulisan tersebut yang merupakan cara Dia berbicara kepada kita sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Tanpa firman yang demikian, tidak bisa ada Ketuhanan ataupun keselamatan. Tanpa firman yang demikian, kita tidak memiliki dasar untuk mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ketuhanan dan Penyelamatan, tanpa otoritas Kitab Suci, merupakan ungkapan yang tidak berarti. Itu mengapa otoritas Kitab Suci menjadi begitu penting. Itu mengapa kita tidak bisa mengatakan kita menhasihi Kristus sementara kita tidak memiliki Alkitab (bnd. Yoh. 14:15, 21, 23, 15:10, 1Yoh. 5:3). Dan itu mengapa, ketika kita menghadirkan Injil, kita harus menghadirkannya sebagai firman yang berotoritas dan janji yang pasti – sebuah firman yang menuntut untuk lebih diutamakan lebih dari semua hal di dunia, sebuah firman yang akan tidak akan bisa dinilai oleh kriteria filsafat dan ilmu pengetahuan modern, tapi yang menuntut otoritas untuk menilai semua pemikiran manusia (Yoh. 12:48-50). Menghadirkannya sebagai sesuatu yang tidak seperti itu berati mengurangi Ketuhanan Kristus dan keselamatan-Nya yang besar. Sebagai Tuhan dan Juruselamat, Kristus ialah pengarang Kitab Suci.


Prof. John Frame dulu ialah Profesor Filsafat dan Teologi Sistematika di Westminster Theological Seminary, USA. Nanun, kini beliau berpindah tugas di Reformed Theological Seminary Kampus Orlando, dan juga menjadi Profesor Filsafat dan Sistematika di sana. Judul asli artikel ini ialah “No Scripture No Christ,” mulanya diterbitkan dalam jurnal Synapse II (1.1, January, 1972) dan dicetak ulang dalam The Presbyterian Guardian (Jan., 1979), 10-11. Artikel ini juga bisa dibaca dalam situs resmi John Frame bersama dengan rekannya Vern Sheridan Poythress di http://www.frame-poythress.org/frame_articles/1972No.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar